Berita & Artikel
7 Tips Mengatur Gaji Bulanan Sesuai Syariat
SHAFIQ Administrator
Kamis,
02-04-26
Cara membagi gaji menurut Islam? | 3 Min read
Apa kabar, SHAFIQers?
Gaji sudah masuk, tapi rasanya cepat banget habis?
Gaji Habis Tiap Bulan? Gimana Cara Mengatur Keuangan Sesuai Syariat agar Nggak ‘Jebol’?
Kalau setiap akhir bulan selalu tekor, bahkan sampai harus berutang, bisa jadi masalahnya bukan di jumlah penghasilan—tapi cara mengelolanya.
Fenomena ini sering disebut lifestyle inflation. Ketika gaji naik, pengeluaran ikut naik. Akhirnya, hidup terasa “jalan di tempat”—dari gaji ke gaji tanpa ada kemajuan finansial.
Padahal dalam Islam, harta bukan sekadar untuk dihabiskan, tapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Di sinilah pentingnya mengatur keuangan dengan lebih bijak dan terarah.
Sebaiknya kita ingat selalu sabda Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya dimanakah usangnya.”
(HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Baca Juga:
Kenapa Gaji Selalu Habis? Ini Akar Masalahnya
Banyak orang merasa penghasilannya kurang, padahal sebenarnya pola pengeluarannya yang tidak terkontrol. Beberapa tanda kamu terkena lifestyle inflation:
- Pengeluaran meningkat seiring kenaikan gaji
- Sulit menabung meski pendapatan bertambah
- Lebih sering belanja kebutuhan tersier
- Tidak punya perencanaan keuangan
Kalau dibiarkan, kondisi ini bisa menghambat tujuan finansial jangka panjang, termasuk investasi.
Konsep Pengeluaran Harta dalam Islam
Dalam perspektif syariah, pengelolaan harta tidak hanya soal efisiensi, tapi juga keberkahan.
Para ulama menjelaskan bahwa pengeluaran harta sebaiknya dibagi ke dalam tiga pos utama:
- Nafkah wajib
Untuk diri sendiri, keluarga, dan orang yang menjadi tanggungan. Ini adalah prioritas utama dan bahkan lebih utama dari sedekah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari).
- Zakat dan Hak Allah
Menunaikan kewajiban zakat membantu membersihkan harta dan menghindarkan dari sifat kikir.
- Sedekah Tathowwu’ (sunnah)
Termasuk membantu kerabat, teman, dan termasuk pula memberi makan pada mereka yang kelaparan.
Setelah merinci demikian, Ibnu Baththal kemudian menjelaskan, “Barangsiapa yang menyalurkan harta untuk tiga jalan di atas, maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).” (Lihat Syarh Bukhari, Ibnu Baththal, 5:454, Asy-Syamilah).
Dengan pembagian ini, keuangan menjadi lebih seimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat.
7 Tips Mengatur Gaji Bulanan Sesuai Syariat
Agar keuangan lebih terarah, berikut langkah praktis yang bisa kamu terapkan:
- Dahulukan Kebutuhan Wajib
Gunakan gaji untuk kebutuhan pokok: makan, tempat tinggal, dan nafkah keluarga.
- Segera Lunasi Hutang
Jika punya utang, prioritaskan pelunasan. Menunda pembayaran padahal mampu termasuk bentuk kezaliman.
- Sisihkan untuk Zakat
Jika sudah memenuhi syarat (nisab dan haul), jangan tunda zakat.
- Atur Kebutuhan Tambahan
Gunakan sisa dana untuk kebutuhan sekunder, tapi tetap dengan kontrol.
- Biasakan Sedekah
Tidak harus besar, yang penting rutin. Sedekah bisa jadi pembuka pintu rezeki.
- Mulai Investasi Halal
Jangan hanya menabung. Alokasikan sebagian dana untuk investasi yang sesuai syariat agar nilai uang berkembang.
- Siapkan Dana Amal Jangka Panjang
Seperti tabungan haji atau umrah. Ini bagian dari perencanaan ibadah sekaligus finansial.
Hidup Sederhana Bukan Berarti Kekurangan
Mengatur gaji bukan soal membatasi diri, tapi soal mengarahkan. Gaya hidup sederhana justru memberi ruang untuk bertumbuh secara finansial. Kamu jadi punya kontrol atas uang, bukan sebaliknya.
Bagi Gen Z dan milenial, ini penting banget. Karena tantangan terbesar saat ini bukan hanya mencari uang, tapi menjaga agar uang itu tidak habis tanpa arah.
Dengan mengikuti prinsip syariah, kamu tidak hanya menjaga stabilitas finansial, tapi juga menghadirkan keberkahan dalam setiap rupiah yang dikelola.
Sebagai langkah lanjutan, mulai pertimbangkan investasi berbasis sektor riil yang sesuai prinsip syariah. Selain membantu mengembangkan aset, langkah ini juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, khususnya UMKM.
Platform seperti Shafiq.id bisa menjadi salah satu pilihan untuk kamu yang ingin mulai berinvestasi secara aman, transparan, dan halal.
Baca Juga:
=====
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI.
Mau Mulai Investasi, Tapi Masih Ragu?
Sebelum ambil keputusan, pastikan kamu paham cara kerjanya:
- Investasi yang baik selalu dimulai dari literasi yang cukup.
- Jangan hanya fokus pada potensi imbal hasil.
- Pahami juga model bisnis, risiko, dan legalitasnya.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Sumber: Diolah dari kajian ulama, hadis, serta materi edukasi keuangan syariah (Rumaysho).