Berita & Artikel
Suka Ngopi? Boleh, Tapi Jangan Sampai Bikin Tabungan Tipis
SHAFIQ Administrator
Rabu, 19-08-26

Ngopi dan Tabungan Tipis | 3 Min read

Apa kabar SHAFIQers?

Ngopi sudah jadi bagian dari keseharian banyak orang. Mau meeting, kerja, ngobrol sama teman, atau sekadar cari suasana baru, kedai kopi selalu punya tempat tersendiri.

Bahkan, berdasarkan survei Populix 2026, awareness terhadap beberapa merek kedai kopi di Indonesia cukup tinggi. Kopi Kenangan misalnya mencapai 97%, disusul Janji Jiwa 87%, Point Coffee 69%, Chatime 65%, Tomoro Coffee 65%, Fore Coffee 61%, dan Kopi Tuku 53%.

Artinya, budaya ngopi memang sudah semakin dekat dengan keseharian masyarakat. Tapi ada satu hal yang jangan sampai ikut menjadi kebiasaan.

Baca Juga:

Ngopi Boleh, Boros Jangan!

Segelas Kopi Memang Terlihat Kecil. Bayangkan kamu membeli kopi seharga Rp 25 ribu. Sekali beli mungkin terasa biasa saja. Tapi kalau dilakukan setiap hari, pengeluarannya bisa menjadi,

Rp25.000 × 30 hari = Rp750.000 per bulan.

Dalam setahun, nominalnya bisa mencapai Rp 9 juta.

Padahal, uang sebesar itu bisa digunakan untuk banyak hal lain, mulai dari menambah tabungan, membangun dana darurat, hingga mulai belajar investasi.

Bukan berarti kopi harus dihapus dari kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensinya dan porsinya dalam anggaran.

Bukan Cuma Kopi yang Bisa Menguras Kantong

Mengutip artikel Viva.co.id, "Jajan Kopi Bukan Satu-Satunya, 5 Pengeluaran Kecil yang Menguras Kantong", kebocoran finansial sehari-hari tidak selalu berasal dari satu pengeluaran besar.

Justru, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering kali tidak terasa. Inilah yang dikenal dengan istilah latte factor.

Sederhananya, latte factor menggambarkan kebiasaan mengeluarkan uang untuk hal-hal kecil yang terlihat sepele, tetapi jika dilakukan terus-menerus ternyata menghabiskan cukup banyak uang. Misalnya:

  1. Kopi atau minuman kekinian;
  2. Camilan saat bekerja;
  3. Ongkos tambahan karena terlalu sering menggunakan layanan tertentu;
  4. Langganan aplikasi yang jarang digunakan;
  5. Serta pembelian impulsif karena tergoda promo.

Satu transaksi mungkin tidak terasa.

Baca Juga:

Masalahnya Ada pada Kebiasaan yang Terus Berulang!

Coba Tanya Diri Sendiri "Uangku Habis ke Mana?". Ini bukan berarti kamu harus menghitung setiap rupiah sampai tidak boleh menikmati hasil kerja.

Justru, menikmati penghasilan juga bagian dari hidup. Namun, akan lebih sehat jika kita tahu batasnya.

Coba selama satu bulan catat pengeluaran kecil yang biasanya tidak masuk dalam rencana.

Setelah itu, jumlahkan. Bisa jadi kamu baru sadar,

"Ternyata yang bikin uang cepat habis bukan satu pengeluaran besar, tapi banyak pengeluaran kecil."

Nah, dari sini kamu bisa mulai menentukan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sebenarnya hanya kebiasaan.

Bukan Berhenti Ngopi, Tapi Mulai Lebih Bijak

Kalau kamu memang suka ngopi, tidak perlu langsung "Mulai besok aku nggak boleh beli kopi!" Belum tentu bertahan. Coba mulai dengan cara yang lebih realistis.

Misalnya:

  1. Tentukan budget ngopi
    Buat batas khusus untuk jajan dan hiburan setiap bulan. Kalau budget sudah habis, tahan dulu sampai periode berikutnya.

  2. Kurangi frekuensi
    Tidak harus setiap hari. Misalnya dari setiap hari menjadi 2–3 kali seminggu.

  3. Bedakan kebutuhan dan keinginan
    Kopi untuk menemani meeting mungkin memang diperlukan. Tapi membeli kopi hanya karena bosan scroll media sosial? Bisa dipikirkan lagi.

  4. Jangan mudah tergoda promo
    Diskon memang membuat harga terlihat lebih murah. Tapi kalau barangnya tidak dibutuhkan, tetap saja uang keluar.

  5. Alihkan uang yang berhasil dihemat
    Nah, ini yang paling penting. Jangan sampai uang yang berhasil dihemat dari ngopi justru habis untuk pengeluaran lain. Masukkan sebagian ke tabungan, dana darurat, atau investasi sesuai kondisi keuanganmu.

Baca Juga:

Finansial Sehat Bukan Berarti Tidak Boleh Menikmati Hidup

Ada anggapan bahwa mengatur keuangan berarti harus pelit dan tidak boleh menikmati hasil kerja. Padahal bukan begitu.

Kamu tetap boleh ngopi, jalan-jalan, makan enak, atau membeli sesuatu yang kamu sukai. Yang penting Jangan sampai gaya hidup mengambil seluruh ruang dari masa depanmu.

Hari ini kamu membeli kopi. Besok beli camilan. Lusa checkout barang karena promo. Minggu depan nongkrong lagi.

Kelihatannya kecil. Tapi kalau terus dilakukan tanpa batas, tabungan bisa jalan di tempat.

Sisihkan untuk Masa Depan!

Finansial sehat adalah ketika kamu masih bisa menikmati hari ini tanpa mengorbankan masa depan. Jadi, buat kamu yang suka ngopi...

  1. Ngopinya lanjut.
  2. Tabungannya jangan lupa.
  3. Investasinya juga jangan ditunda.

_______________

SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:

  1. Berinvestasi pada bisnis sektor riil
  2. Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
  3. Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
  4. Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.

⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!

⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Share
slider-mobile