Ngopi dan Tabungan Tipis | 3 Min read
Apa kabar SHAFIQers?
Ngopi sudah jadi bagian dari keseharian banyak orang. Mau meeting, kerja, ngobrol sama teman, atau sekadar cari suasana baru, kedai kopi selalu punya tempat tersendiri.
Bahkan, berdasarkan survei Populix 2026, awareness terhadap beberapa merek kedai kopi di Indonesia cukup tinggi. Kopi Kenangan misalnya mencapai 97%, disusul Janji Jiwa 87%, Point Coffee 69%, Chatime 65%, Tomoro Coffee 65%, Fore Coffee 61%, dan Kopi Tuku 53%.
Artinya, budaya ngopi memang sudah semakin dekat dengan keseharian masyarakat. Tapi ada satu hal yang jangan sampai ikut menjadi kebiasaan.
Baca Juga:
Segelas Kopi Memang Terlihat Kecil. Bayangkan kamu membeli kopi seharga Rp 25 ribu. Sekali beli mungkin terasa biasa saja. Tapi kalau dilakukan setiap hari, pengeluarannya bisa menjadi,
Rp25.000 × 30 hari = Rp750.000 per bulan.
Dalam setahun, nominalnya bisa mencapai Rp 9 juta.
Padahal, uang sebesar itu bisa digunakan untuk banyak hal lain, mulai dari menambah tabungan, membangun dana darurat, hingga mulai belajar investasi.
Bukan berarti kopi harus dihapus dari kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensinya dan porsinya dalam anggaran.
Mengutip artikel Viva.co.id, "Jajan Kopi Bukan Satu-Satunya, 5 Pengeluaran Kecil yang Menguras Kantong", kebocoran finansial sehari-hari tidak selalu berasal dari satu pengeluaran besar.
Justru, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering kali tidak terasa. Inilah yang dikenal dengan istilah latte factor.
Sederhananya, latte factor menggambarkan kebiasaan mengeluarkan uang untuk hal-hal kecil yang terlihat sepele, tetapi jika dilakukan terus-menerus ternyata menghabiskan cukup banyak uang. Misalnya:
Satu transaksi mungkin tidak terasa.
Baca Juga:
Coba Tanya Diri Sendiri "Uangku Habis ke Mana?". Ini bukan berarti kamu harus menghitung setiap rupiah sampai tidak boleh menikmati hasil kerja.
Justru, menikmati penghasilan juga bagian dari hidup. Namun, akan lebih sehat jika kita tahu batasnya.
Coba selama satu bulan catat pengeluaran kecil yang biasanya tidak masuk dalam rencana.
Setelah itu, jumlahkan. Bisa jadi kamu baru sadar,
"Ternyata yang bikin uang cepat habis bukan satu pengeluaran besar, tapi banyak pengeluaran kecil."
Nah, dari sini kamu bisa mulai menentukan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sebenarnya hanya kebiasaan.
Kalau kamu memang suka ngopi, tidak perlu langsung "Mulai besok aku nggak boleh beli kopi!" Belum tentu bertahan. Coba mulai dengan cara yang lebih realistis.
Misalnya:
Baca Juga:
Ada anggapan bahwa mengatur keuangan berarti harus pelit dan tidak boleh menikmati hasil kerja. Padahal bukan begitu.
Kamu tetap boleh ngopi, jalan-jalan, makan enak, atau membeli sesuatu yang kamu sukai. Yang penting Jangan sampai gaya hidup mengambil seluruh ruang dari masa depanmu.
Hari ini kamu membeli kopi. Besok beli camilan. Lusa checkout barang karena promo. Minggu depan nongkrong lagi.
Kelihatannya kecil. Tapi kalau terus dilakukan tanpa batas, tabungan bisa jalan di tempat.
Finansial sehat adalah ketika kamu masih bisa menikmati hari ini tanpa mengorbankan masa depan. Jadi, buat kamu yang suka ngopi...
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.