Sebab terjebak investasi bodong! | 3 Min read
Melihat teman seangkatan sudah traveling ke berbagai negara, mengendarai mobil mewah, atau memiliki tabungan puluhan hingga ratusan juta rupiah bisa membuat seseorang merasa tertinggal (baca: minder).
Apalagi ketika melihat semua itu melalui media sosial. Di satu sisi, kita hanya memiliki tabungan Rp10 juta dengan penghasilan yang sedikit di atas UMR. Di sisi lain, teman seumuran terlihat sudah menikmati kehidupan yang jauh lebih mapan.
Perasaan tersebut sebenarnya wajar. Namun, masalah muncul ketika keinginan untuk mengejar ketertinggalan finansial membuat seseorang ingin kaya dalam waktu singkat.
Baca Juga:
Karena merasa tertinggal, seseorang bisa mulai mencari berbagai peluang bisnis atau investasi yang menjanjikan keuntungan besar.
Targetnya pun semakin tinggi. Bukan lagi sekadar mendapatkan hasil yang wajar, tetapi berharap modal Rp10 juta bisa berubah menjadi Rp15 juta, Rp20 juta, bahkan berlipat ganda dalam waktu singkat.
Tawaran investasi dengan potensi keuntungan 50%, 100%, atau bahkan berkali-kali lipat akhirnya terlihat sangat menarik.
Di sinilah seseorang perlu berhenti sejenak.
Apakah keuntungan tersebut masuk akal? Dari mana sumber keuntungannya? Bagaimana bisnisnya berjalan? Apa risikonya?
Ada satu hal yang sering terlupakan media sosial hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Kita mungkin melihat teman sedang berlibur ke luar negeri, membeli kendaraan baru, atau menikmati gaya hidup tertentu. Namun, kita tidak selalu mengetahui kondisi keuangannya secara keseluruhan.
Apakah semuanya dibeli secara tunai? Apakah memiliki utang? Berapa penghasilannya? Berapa aset yang dimiliki? Atau mungkin perjalanan yang terlihat mewah tersebut hanya terjadi sesekali?
Karena itu, menjadikan kehidupan orang lain di media sosial sebagai patokan keberhasilan finansial bisa membuat standar kita menjadi tidak realistis.
Baca Juga:
Keinginan memperbaiki kondisi finansial tentu merupakan hal yang baik. Namun, investasi bukan jalan pintas untuk mengejar gaya hidup orang lain.
Semakin besar imbal hasil yang ditawarkan, semakin penting bagi calon investor untuk memahami risiko, model bisnis, legalitas, mekanisme investasi, dan sumber keuntungan.
Jangan sampai karena ingin mempercepat pertumbuhan uang, seseorang justru memasukkan seluruh tabungannya ke dalam tawaran yang tidak dipahami.
Risikonya bukan hanya kehilangan modal. Jika keputusan tersebut dilakukan dengan dana pinjaman atau mendorong seseorang kembali berutang, kondisi keuangan justru bisa semakin berat.
Setiap orang memiliki titik awal, penghasilan, tanggungan, kesempatan, dan perjalanan finansial yang berbeda.
Daripada bertanya, “Mengapa teman saya sudah punya banyak, sedangkan saya baru punya Rp10 juta?”, pertanyaan yang lebih sehat adalah,
“Bagaimana saya bisa membuat kondisi keuangan saya lebih baik dari tahun ke tahun?”
Sebab, mengejar ketertinggalan finansial tidak seharusnya membuat kita mengambil jalan yang justru membawa masalah finansial baru.
Baca Juga:
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Sumber: