Berita & Artikel
Risiko Usaha yang Akan Dihadapi Pengusaha dan Cara Mengatasinya
SHAFIQ Administrator
Senin, 03-08-26

Risiko Usaha dan Cara Mengatasinya | 3 Min read

Setiap bisnis pasti punya risiko? Tokoh Warret Buffett mengatakan "Risk comes from not knowing what you're doing."

Bahkan perusahaan besar sekalipun tidak pernah lepas dari tantangan. Yang membedakan bisnis yang bertahan dan yang gagal bukanlah ada atau tidaknya risiko, melainkan bagaimana cara mengelolanya.

Karena itu, sebagai pelaku usaha maupun investor, kita perlu memahami berbagai jenis risiko bisnis agar dapat mengambil keputusan dengan lebih bijak.

Yuk, simak pembahasannya!

Baca Juga:

Apa Itu Risiko Bisnis?

Risiko bisnis adalah kemungkinan terjadinya kondisi yang dapat menghambat operasional perusahaan atau menyebabkan kerugian.

Brigham dan Houston (2011) risiko bisnis adalah tingkat risiko inheren dalam operasi perusahaan jika tidak menggunakan hutang.

Sedangkan Joni dan Lina (2010) memberikan penjelasan bahwa risiko bisnis adalah risiko yang dihadapi perusahaan ketika perusahaan menjalankan kegiatan operasionalnya yaitu ketidakmampuan perusahaan membiayai kegiatan operasionalnya. Bila perusahaan mengalami kendala atau tidak mampu membiayai kegiatan operasional maka kegiatan operasional perusahaan akan terganggu dan hal ini akan memberikan sinyal negatif bagi para investor ataupun kreditor.

Dalam praktiknya, risiko tidak selalu berarti kegagalan. Justru dengan memahami risiko sejak awal, perusahaan dapat menyiapkan strategi agar dampaknya bisa diminimalkan.

Berikut beberapa risiko usaha atau bisnis yang dapat SHAFIQers pahami sehingga dapat menghadirkan solusinya ketika menimbulkan berbagai masalah kedepannya. 

Risiko Keuangan

Risiko ini berkaitan dengan kondisi keuangan perusahaan, seperti arus kas yang terganggu, biaya operasional yang meningkat, atau pendapatan yang menurun. Beberapa penyebabnya antara lain:
  1. Penjualan turun.
  2. Piutang sulit tertagih.
  3. Pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.
  4. Modal kerja tidak mencukupi.
Cara mengatasinya:
  1. Mengelola arus kas dengan disiplin.
  2. Menyediakan dana cadangan.
  3. Menghindari utang yang berlebihan.
  4. Melakukan evaluasi keuangan secara berkala.

Risiko Pasar

Perubahan selera konsumen, munculnya kompetitor baru, hingga perkembangan teknologi dapat mempengaruhi penjualan sebuah bisnis. Produk yang laris hari ini belum tentu tetap diminati beberapa tahun ke depan.
Cara mengatasinya:
  1. Rutin melakukan riset pasar.
  2. Memahami kebutuhan pelanggan.
  3. Terus berinovasi.
  4. Memperkuat pelayanan dan kualitas produk.

Risiko Operasional

Risiko operasional berasal dari proses internal perusahaan. Contohnya:
  1. Kesalahan produksi.
  2. Gangguan sistem.
  3. Human error.
  4. Keterlambatan distribusi.
  5. Bencana alam.
Cara mengatasinya:
  1. Membuat SOP yang jelas.
  2. Melatih karyawan secara berkala.
  3. Menyiapkan rencana darurat (business continuity plan).
  4. Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.

Risiko Hukum dan Regulasi

Perubahan peraturan pemerintah atau ketidakpatuhan terhadap hukum dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar. Karena itu, setiap pelaku usaha perlu memastikan seluruh kegiatan bisnis berjalan sesuai regulasi yang berlaku.
Cara mengatasinya:
  1. Memahami regulasi industri.
  2. Melengkapi seluruh legalitas usaha.
  3. Berkonsultasi dengan tenaga profesional bila diperlukan.
Baca Juga:

Risiko Reputasi

Kepercayaan pelanggan merupakan aset yang sangat berharga. Kesalahan pelayanan, kualitas produk yang buruk, hingga komunikasi yang kurang baik dapat merusak reputasi perusahaan dalam waktu singkat.
Cara mengatasinya:
  1. Menjaga kualitas produk dan layanan.
  2. Menanggapi keluhan pelanggan dengan cepat.
  3. Bersikap jujur dan transparan.
  4. Membangun hubungan baik dengan pelanggan dan mitra bisnis.

Penting Nih! Investor Juga Perlu Memahami Risiko

Bukan hanya pelaku usaha, investor juga harus memahami bahwa setiap investasi memiliki risiko. Karena itu, sebelum berinvestasi pastikan untuk:
  1. Mempelajari prospektus dengan baik.
  2. Memahami model bisnis perusahaan.
  3. Melihat rekam jejak penerbit.
  4. Menyesuaikan investasi dengan profil risiko masing-masing.
  5. Menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada janji keuntungan tinggi.
Risiko adalah bagian dari perjalanan bisnis. Yang terpenting bukan bagaimana menghindarinya sepenuhnya, tetapi bagaimana mengenali, mengukur, dan mengelolanya dengan baik.

Dengan memahami berbagai jenis risiko sejak awal, pelaku usaha dapat membangun bisnis yang lebih tangguh, sementara investor dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur.

Di SHAFIQ, setiap penawaran efek syariah disertai informasi dan prospektus yang dapat dipelajari terlebih dahulu sehingga SHAFIQers dapat berinvestasi dengan lebih bijak sesuai prinsip syariah.

Baca Juga:

_______________

SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
  1. Berinvestasi pada bisnis sektor riil
  2. Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
  3. Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
  4. Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Share
slider-mobile