Berita & Artikel
Investasi Cari Untung, Kok Ada Risikonya?
SHAFIQ Administrator
Jumat,
30-01-26
Investasi tanpa risiko, Ada? | 3 Min read
Min, kalau investasi bisa dijamin untung nggak?
Pertanyaan seperti ini ternyata sering muncul, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil dan tekanan biaya hidup yang kian terasa.
Tidak sedikit orang tergoda tawaran investasi dari pesan singkat atau grup Telegram yang menjanjikan keuntungan tinggi, cepat, dan tanpa risiko.
Masalahnya, justru di situlah alarm pertama seharusnya berbunyi.
Baca Juga:
2 Ciri Klasik Investasi Bodong yang Masih Berulang
Dalam praktiknya, pola investasi ilegal (bodong tanpa izin regulator) nyaris tidak berubah. Ada dua ciri utama yang paling sering digunakan:
- Jaminan keuntungan
Tidak ada instrumen investasi yang sah dan sehat yang berani menjamin keuntungan pasti.
- Proyeksi imbal hasil tidak logis
Klaim profit hingga puluhan persen per hari tidak sejalan dengan realitas (kondisi riil) bisnis dan pasar keuangan.
Fenomena ini pernah dibahas dalam diskusi Waspada Investasi Ilegal! yang menghadirkan Head of Operation SHAFIQ bersama Founder Hibra, Husni Farid Abdat. (Februari, 2023)
Beliau memberikan analogi sederhana namun relevan: Jadilah seperti anak kecil yang ketika ditawari permen oleh orang tidak dikenal di jalan agar tidak langsung menerimanya. Pesan itu didapat sang anak dari orang tuanya agar lebih waspada.
Sikap waspada itu seharusnya juga diterapkan saat menerima penawaran investasi.
Prinsip Dasar Investasi adalah Peluang Untung Selalu Datang Bersama Risiko
Dalam dunia investasi, tidak ada kepastian mutlak. Keuntungan selalu berjalan beriringan dengan risiko.
Dalam kaidah fikih muamalah dikenal prinsip penting:
“Keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung kerugian.”
Artinya, pihak yang berhak memperoleh keuntungan adalah pihak yang juga siap menanggung risiko apabila terjadi kerugian. Prinsip ini menjadi fondasi keadilan dalam transaksi bisnis dan investasi syariah.
Hal ini sesuai dengan hadits,
“Dari sahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya seorang lelaki membeli seorang budak laki-laki. Kemudian, budak tersebut tinggal bersamanya selama beberapa waktu.
Suatu hari sang pembeli mendapatkan adanya cacat pada budak tersebut. Kemudian, pembeli mengadukan penjual budak kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi-pun memutuskan agar budak tersebut dikembalikan.
Maka penjual berkata, ‘Ya Rasulullah! Sungguh ia telah mempekerjakan budakku?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keuntungan adalah imbalan atas kerugian.'”
(HR. Abu Daud no. 3510, An Nasai no. 4490, Tirmidzi no. 1285, Ibnu Majah no. 2243 dan Ahmad 6: 237. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Mengapa Risiko dalam Investasi Tidak Bisa Dihilangkan?
Banyak investor pemula berharap menemukan instrumen yang “aman tapi untung besar”. Pada kenyataannya, risiko tidak pernah nol.
Beberapa penyebab utamanya antara lain:
- Dinamika dan Kondisi Pasar
Nilai investasi bisa berubah akibat kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, gejolak global, hingga sentimen pasar. Faktor-faktor ini berada di luar kendali investor.
- Tidak Ada Jaminan Pasti Untung
Bahkan instrumen yang relatif stabil sekalipun tetap memiliki potensi fluktuasi. Imbal hasil yang lebih stabil biasanya datang dengan potensi keuntungan yang lebih moderat.
- Proyeksi Bukan Kepastian
Kinerja masa lalu tidak pernah menjadi jaminan hasil di masa depan. Setiap keputusan investasi selalu membawa ketidakpastian.
- Faktor di Luar Kendali
Kinerja pengelola usaha, tata kelola perusahaan, hingga potensi kecurangan merupakan risiko yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan investor.
Mengelola Risiko Secara Bijak dan Sesuai Prinsip Syariah
Alih-alih mencari investasi bebas risiko, pendekatan yang lebih sehat adalah mengelola risiko secara sadar. Beberapa langkah dasar yang perlu diperhatikan:
- Memastikan legalitas dan pengawasan regulator
- Menilai kewajaran imbal hasil
- Memahami model bisnis dan penggunaan dana
- Melakukan diversifikasi portofolio
- Mengedepankan prinsip transparansi dan keadilan
Dalam ekonomi syariah, investasi bukan sekadar soal imbal hasil, tetapi juga keberlanjutan dan kemaslahatan.
Berilmu Sebelum Berinvestasi
Maraknya investasi ilegal menunjukkan bahwa literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Sikap kritis, kehati-hatian, dan kesediaan belajar adalah perlindungan terbaik bagi investor, terutama di tengah derasnya tawaran yang tampak menggiurkan.
Berinvestasi dengan prinsip syariah berarti menyadari bahwa keuntungan bukan hadiah instan, melainkan hasil dari keputusan yang berilmu, adil, dan bertanggung jawab.
Baca Juga:
_______________
SHAFIQ Dukung pertumbuhan bisnis UKM sektor riil melalui investasi yang legal dan sesuai prinsip syariah. Kamu juga berkesempatan memperoleh pendanaan hingga Rp10 miliar untuk mengembangkan usaha.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.