Berita & Artikel
Mengapa Gen Z Sulit Beli Rumah? Ini Penyebabnya
SHAFIQ Administrator
Kamis, 02-07-26

Gen Z Sulit Beli Rumah | 3 Min read

"Pernah nggak kepikiran, kenapa orang tua kita dulu bisa beli rumah di usia 30-an, sementara sekarang banyak Gen Z yang merasa memiliki rumah hanyalah mimpi?"

Kalau melihat harga rumah yang terus naik, ditambah biaya hidup yang semakin mahal, pertanyaan itu memang terasa masuk akal.

Mengutip Kompas.com, Kesulitan Gen Z untuk membeli rumah secara global juga diungkap dalam buku Housing Affordability: Challenges for the New Generation oleh David P Varady. Ia menyebutkan bahwa harga properti yang terus meningkat dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat banyak anggota Gen Z merasa kesulitan untuk memiliki rumah sendiri.

Jadi bukan berarti Gen Z malas bekerja. Justru banyak yang memiliki satu pekerjaan tetap, ditambah pekerjaan sampingan (side hustle), bahkan mencoba membangun bisnis sendiri. Namun, tetap saja membeli rumah terasa semakin jauh dari jangkauan.

Baca Juga:
Lalu, apa saja yang membuat Gen Z semakin sulit memiliki rumah?

Apakah Gen Z Juga Termasuk Generasi Sandwich?

Jawabannya, iya, sebagian di antaranya. Berdasarkan survei DataIndonesia.id pada 2023, sekitar 46,3% Gen Z di Indonesia tergolong sebagai generasi sandwich.

Artinya, mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga membantu membiayai orang tua, bahkan sebagian sudah memiliki tanggungan pasangan maupun anak.

Akibatnya, ruang untuk menabung demi membeli rumah menjadi semakin sempit.

Apa Itu Generasi Sandwich?

Generasi sandwich adalah istilah untuk seseorang yang berada di "tengah", yaitu harus menopang kebutuhan dua generasi sekaligus.

Mereka harus, membantu orang tua, membiayai keluarga sendiri, memenuhi kebutuhan anak, bahkan terkadang masih membantu saudara kandung.
Tidak heran jika banyak yang merasa gajinya habis sebelum akhir bulan meskipun penghasilannya terus meningkat.

Mengapa Gen Z Sulit Memiliki Rumah?

Berikut beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.

  1. Harga Rumah Terus Naik
    Harga properti mengalami kenaikan hampir setiap tahun. Sayangnya, kenaikan tersebut jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Akibatnya, uang muka (DP) maupun cicilan rumah terasa semakin berat bagi pekerja muda.

  2. Biaya Hidup Semakin Mahal
    Selain harga rumah, biaya kebutuhan sehari-hari juga terus meningkat. Mulai dari, kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, kesehatan, hingga biaya hiburan.

    Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk kebutuhan rutin, kemampuan menabung pun ikut menurun.

  3. Kenaikan Gaji Tidak Secepat Kenaikan Harga Properti
    Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, rata-rata Upah Minimum Provinsi (UMP) pada 2024 meningkat sekitar 6,5%. Namun dalam periode yang sama, harga rumah di berbagai kota besar mengalami kenaikan yang lebih tinggi.

    Inilah sebabnya banyak Gen Z merasa "berlari di tempat". Gaji naik, tetapi kemampuan membeli rumah tidak ikut meningkat.

  4. Banyak Bekerja di Sistem Gig Economy
    Saat ini semakin banyak anak muda bekerja sebagai, freelancer, content creator, pekerja proyek, mitra platform digital, maupun pekerja kontrak.

    Model pekerjaan seperti ini memang memberikan fleksibilitas, tetapi seringkali belum memiliki kepastian pendapatan maupun fasilitas seperti dana pensiun atau pembiayaan kepemilikan rumah.

  5. Gaya Hidup Konsumtif
    Tidak semua penyebab berasal dari faktor ekonomi. Sebagian Gen Z juga menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan.

    Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) membuat sebagian orang lebih mudah menghabiskan uang untuk gadget terbaru, nongkrong, traveling, fashion, hingga cicilan barang konsumtif.

    Padahal dana tersebut sebenarnya bisa menjadi tabungan untuk uang muka rumah.

Lalu, Apa Solusinya?

Meskipun tantangannya besar, bukan berarti Gen Z tidak bisa memiliki rumah. Beberapa langkah berikut dapat mulai dipersiapkan sejak dini.

  1. Tingkatkan Penghasilan
    Jangan hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. Belajar keterampilan baru, membangun bisnis sampingan, atau mencari peluang penghasilan tambahan dapat mempercepat tercapainya target membeli rumah.

  2. Kelola Keuangan dengan Disiplin
    Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mulailah membuat anggaran, mengurangi pengeluaran konsumtif, serta menyiapkan dana darurat sebelum mengejar tujuan finansial yang lebih besar.

  3. Menabung dan Berinvestasi
    Menabung memang penting, tetapi nilai uang juga perlu bertumbuh.

    Setelah dana darurat terpenuhi, pertimbangkan untuk mulai berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing agar tujuan membeli rumah dapat dicapai lebih cepat.

  4. Jangan Menunggu Sempurna untuk Memulai
    Banyak orang menunda menabung karena merasa penghasilannya masih kecil. Padahal membangun kebiasaan jauh lebih penting daripada menunggu nominal yang besar.

    Sedikit demi sedikit, dana tersebut akan terus berkembang seiring waktu.

Tantangan bukan Berarti Akhir dari Harapan

Memiliki rumah di usia muda memang tidak semudah beberapa dekade lalu. Kenaikan harga properti, biaya hidup, fenomena generasi sandwich, hingga perubahan pola kerja menjadi tantangan nyata yang dihadapi banyak Gen Z.

Namun, tantangan bukan berarti akhir dari harapan.

Dengan meningkatkan literasi keuangan, mengelola penghasilan secara bijak, serta mulai berinvestasi sejak dini, peluang memiliki rumah tetap terbuka. Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga hasil dari perencanaan keuangan yang konsisten dan kesabaran dalam berproses.

Konten edukasi ini dipersembahkan oleh SHAFIQ, platform Securities Crowdfunding (SCF) Syariah yang berkomitmen meningkatkan literasi keuangan, bisnis, dan investasi syariah di Indonesia.

Ingin menjadi pemodal atau mencari pendanaan bisnis? Pastikan telah mendaftar dan melengkapi proses KYC sebelum berinvestasi melalui Shafiq.id.

Baca Juga:
=====
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Sumber:
Share
slider-mobile