Berita & Artikel
5 Fakta Mengejutkan Literasi Finansial Gen Z Versi OJK
SHAFIQ Administrator
Kamis, 09-04-26

Literasi Finansial Gen Z | 3 Min read

Gen Z sering dianggap sebagai generasi paling “melek teknologi”. Tapi ada satu fakta yang cukup bikin mikir: melek digital belum tentu melek finansial.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan adanya gap yang cukup serius antara akses keuangan dan pemahaman finansial di kalangan anak muda.

Baca Juga:
Nah, ini dia 5 fakta yang bisa jadi “wake up call” buat kita semua.

Literasi Finansial Masih Rendah

Meski terbiasa pakai e-wallet, mobile banking, dan berbagai aplikasi keuangan, banyak Gen Z yang belum benar-benar paham cara mengelola uang.

Artinya:
  1. Bisa transaksi ≠ paham finansial
  2. Aktif pakai aplikasi ≠ punya strategi keuangan
  3. Ini yang bikin banyak keputusan finansial jadi kurang matang.

Rentan Terjerat Pinjaman Online

Minimnya pemahaman soal risiko bikin Gen Z lebih mudah terjebak pinjaman instan (pinjol). Beberapa pola yang sering terjadi:
  1. Tergiur proses cepat tanpa pikir panjang
  2. Mengabaikan bunga tinggi
  3. Gali lubang tutup lubang
  4. Kalau dibiarkan, ini bisa merusak kondisi keuangan jangka panjang.

Terjebak Gaya Hidup FOMO dan YOLO

FOMO (fear of missing out) dan YOLO (you only live once) jadi “racun halus” dalam keuangan. Contohnya:
  1. Beli barang viral padahal nggak butuh
  2. Liburan demi konten, bukan kebutuhan
  3. Ikut tren tanpa perhitungan
Masalahnya bukan di gaya hidupnya, tapi ketika keputusan diambil tanpa kontrol finansial.

Tabungan dan Investasi Masih Minim

Dampak dari pola konsumtif tadi cukup nyata:
  1. Tabungan tipis
  2. Tidak punya dana darurat
  3. Asal ikut investasi tanpa riset
Padahal, di usia produktif, ini adalah fase terbaik untuk membangun fondasi keuangan.

Gap antara Akses dan Pemahaman

Ini poin paling krusial. Gen Z sebenarnya sudah punya:
  1. Rekening bank
  2. Dompet digital
  3. Akses paylater
  4. Platform investasi
Tapi sayangnya, akses yang luas tidak diimbangi dengan pemahaman yang cukup. Akibatnya, teknologi yang seharusnya membantu justru bisa jadi bumerang.

Masalahnya Bukan di Gen Z, Tapi di Mindset
Kalau ditarik lebih dalam, ini bukan sekadar soal angka literasi. Masalah utamanya ada di:
  1. Mindset instant
  2. Kurangnya edukasi finansial sejak dini
  3. Lingkungan sosial yang mendorong konsumtif
Padahal, dengan akses yang ada sekarang, Gen Z sebenarnya punya peluang besar untuk jadi generasi paling kuat secara finansial.

Fakta dari OJK ini bukan untuk menyalahkan, tapi jadi pengingat. Bahwa di tengah kemudahan teknologi, kita tetap butuh satu hal penting: literasi finansial yang kuat.

Mulai dari hal sederhana:
  1. Mengatur cashflow
  2. Menyisihkan tabungan
  3. Memilih investasi yang jelas dan aman
Bagi kamu yang ingin mulai investasi dengan pendekatan yang lebih terarah dan berbasis sektor riil, platform seperti Shafiq.id bisa jadi opsi. Selain transparan, investasi syariah juga membantu mendorong pertumbuhan UMKM secara langsung.

Baca Juga:
=====
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI.

Mau Mulai Investasi, Tapi Masih Ragu?
Sebelum ambil keputusan, pastikan kamu paham cara kerjanya:
  1. Investasi yang baik selalu dimulai dari literasi yang cukup.
  2. Jangan hanya fokus pada potensi imbal hasil.
  3. Pahami juga model bisnis, risiko, dan legalitasnya.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Sumber: Diolah dari survei dan publikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Share
slider-mobile