Berita & Artikel
Self Reward atau Boros Terselubung? Saatnya Evaluasi Gaya Hidup
SHAFIQ Administrator
Kamis,
15-05-25
Self reward atau Boros? | 2 Men read
Akrab dengan Quote ini, “Kerja udah capek-capek, masa nggak boleh ngasih hadiah buat diri sendiri?”.
Kalimat ini pasti sering kamu dengar—atau justru kamu sendiri yang sering bilang begitu tiap kali checkout keranjang belanjaan. Konsep self reward memang terdengar menyenangkan: sebagai bentuk apresiasi setelah melewati hari yang padat atau target yang tercapai.
Pernah nggak sih kamu berhenti sejenak dan mikir… ini benar-benar self reward? Atau cuma alasan biar belanjaan jadi terasa ‘berfaedah’?
Self Reward Itu Sehat, Tapi...
Nggak ada yang salah dengan self reward. Malah bagus kalau kamu tahu kapan waktunya memberi jeda dan menghargai usaha sendiri. Tapi jadi bahaya kalau tiap ada momen stres atau bosan dikit, solusinya selalu belanja atau jajan mahal.
Lama-lama bukan reward lagi, tapi coping mechanism yang nggak sehat.
* strategi atau cara yang digunakan seseorang untuk menghadapi situasi stres atau trauma psikologis
Apalagi kalau kamu mulai pakai alasan “agar tetap waras” padahal ujung-ujungnya over budget. Tagihan paylater numpuk, saldo menipis, tapi masih ngerasa perlu ‘hadiah kecil’. Nah, ini sudah masuk ranah boros terselubung.
Kenapa Self Reward Bisa Kebablasan?
Tidak ada yang salah dengan kata self reward, namun jika dilakukan hingga kebablasan sehingga membuat keuangan tidak sehat maka ini disebut kebablasan atau berlebihan.
Inilah beberapa penyebabnya:
- Social pressure – Lihat orang lain ‘treat yourself’, kamu jadi ikutan (FOMO). Padahal belum tentu kondisi finansialnya sama.
- Kompensasi lelah dan stres – Reward dijadikan pelarian biar “nanti semangat lagi”.
- Kemudahan transaksi digital – Semua serba instan. Klik, bayar, datang. Efeknya, belanja makin susah dikontrol.
Ciri Self Reward yang Nggak Sehat dan Gimana Solusinya?
Ini nih beberapa indikator yang bisa kamu cek list! Namun setiap orang punya keadaan yang berbeda ya!
- Belanja tanpa rencana, tapi selalu pakai dalih “nggak apa-apa, kan self reward.”
- Gajian habis lebih cepat dari seharusnya.
- Menyesal setelah transaksi, tapi terus diulang tiap bulan.
- Mengabaikan kebutuhan penting demi memenuhi keinginan.
Solusinya adalah…
Jangan khawatir ya! Semua masalah musti adalah solusinya, catat beberapa poin ini:
- Bikin budget khusus self reward
Misalnya 5% dari gaji bulanan. Jadi tetap bisa senang-senang tanpa bikin dompet megap-megap.
- Pilih bentuk reward yang non-material
Istirahat cukup, quality time, baca buku, me time di rumah—semua ini bisa jadi bentuk penghargaan buat diri sendiri yang lebih sustainable.
- Mindful spending
Pikirkan dulu sebelum beli: “Apakah ini karena butuh, atau cuma pengen?”
- Tunda 24 jam
Kalau masih pengen beli setelah 1-2 hari, baru kamu bisa nilai itu layak atau enggak.
Self Reward Terbaik itu Mental Health!
Self reward itu soal keseimbangan. Jangan sampai niatnya mau menghargai diri sendiri, tapi ujung-ujungnya malah jadi beban baru—entah di dompet, mental, atau relasi.
Kadang, bentuk terbaik dari self reward bukan benda. Tapi rasa tenang karena nggak punya utang, saldo aman, dan hidup nggak dipaksa ikut standar orang lain.
Yuk, lebih sadar sama gaya hidup kita. Reward secukupnya, sisanya? Kita nabung dan investasi buat masa depan yang lebih indah. Cocok?
💡 Dunia ini tempat berikhtiar, tapi tujuan kita tetap akhirat. Gunakan rezeki dunia sebagai bekal menuju ridha-Nya. Semoga Allah ﷻ mudahkan setiap langkah dan luruskan niat kita.
_______________
SHAFIQ.id hadir untuk bantu kamu investasi di Bisnis UKM riil yang halal. Urun dana bisa bantu bisnis berkembang—dan kamu juga berpeluang raih pendanaan hingga Rp10 Miliar! Caranya Daftar di platform SHAFIQ.
⚠️ Disclaimer: Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk tujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/jual instrumen tertentu.