Berita & Artikel
Cashless Bikin Boros? Cara Bijak Atur Uang di Era Dompet Digital
SHAFIQ Administrator
Rabu, 20-08-25

Cashless Bikin Boros | 2 Men read

Pernah Nggak Sih… SHAFIQers mengalami ini?

Baru gajian, saldo e-wallet penuh, tapi dalam hitungan hari sudah terkuras? Semua gara-gara “tap-tap” kecil: kopi, promo ongkir, hingga diskon flash sale.
Di era cashless, ini bukan cerita asing. Praktis memang, tapi kadang bikin kita kehilangan kontrol.

Yuk lirik fakta menarik ini…
Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) menyebut ada tiga instrumen pembayaran yang umum digunakan masyarakat, yaitu kartu kredit, kartu debit, dan uang elektronik. Menurut Direktur Eksekutif ASPI, Djamin Edison Nainggolan, uang elektronik kini menjadi yang paling dominan, dengan jumlah akun diperkirakan mencapai 800 juta hingga akhir tahun. (infobanknews)

Gimana ternyata semakin banyak peminatnya… Tapi …

Studi dari University of Adelaide dan University of Melbourne menunjukkan pembayaran digital bikin orang lebih boros, bahkan cenderung membeli barang mewah tanpa sadar. (rri.co.id)

AkhQ sendiri pernah ngerasain hal yang sama. Rasanya seneng banget tinggal scan QR. Tapi lama-lama sadar: kalau nggak dikendalikan, cashless bisa bikin pengeluaran lebih cepat bocor daripada isi dompet fisik.

Kenapa Cashless Bikin Lebih Boros?

Sebelum ngomongin solusi, mari kita pahami dulu kenapa cashless seolah-olah bikin kantong makin tipis.

Ada beberapa hal psikologis dan kebiasaan yang bikin kita lebih mudah mengeluarkan uang ketika semua serba digital.

  1. Uang Jadi “Nggak Terlihat”
    Kalau pakai cash, kita bisa lihat uang berkurang dari dompet. Di e-wallet, cuma angka di layar yang berkurang. Otak kita sering nggak menganggap itu “real”.

  2. Godaan Promo dan Diskon
    Cashback 50%, ongkir Rp0, atau voucher belanja sering jadi jebakan. Akhirnya kita beli sesuatu yang nggak benar-benar perlu.

  3. Transaksi Super Cepat
    Scan, klik, selesai. Saking gampangnya, proses mikir “perlu atau nggak ya?” Sering kelewat.
Baca Juga:


Cara Bijak Atur Uang di Era Dompet Digital

Kabar baiknya, cashless bukan berarti musuh. Justru kalau dipakai dengan strategi, dompet digital bisa jadi sahabat pengelolaan keuangan.

Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dicoba.

  1. Pisahkan Dompet Digital untuk Kebutuhan Harian
    Buat satu e-wallet khusus kebutuhan pokok, misalnya makan dan transport. Tentukan limit bulanan. Kalau habis, jangan ditambah.

  2. Gunakan Fitur Budgeting
    Beberapa aplikasi sudah ada pengingat atau limit belanja. Manfaatkan biar pengeluaran tetap terkendali.

  3. Catat Pengeluaran (Meski Digital)
    Pakai apps, spreadsheet, atau catatan sederhana. Dengan begitu kamu bisa lihat jelas “uang bocor” ke mana.

  4. Belanja Berdasarkan Rencana, Bukan Promo
    Diskon 50% tetap berarti kamu bayar 50%. Beda cerita kalau memang kebutuhan. Jadi, biasakan belanja berdasarkan rencana.

  5. Terapkan “Pause Rule”
    Sebelum klik bayar, tahan 24 jam. Kalau besok masih butuh, beli. Kalau nggak, berarti cuma lapar mata.

Jadi, Cashless Itu Musuh atau Teman?

Sebenarnya bukan cashless yang bikin boros, tapi kebiasaan kita yang belum terlatih. Dengan strategi kecil—pisahkan dompet digital, tentukan budget, dan catat pengeluaran—cashless bisa jadi alat bantu keuangan yang powerful.

Jadi, jangan biarkan teknologi bikin dompet jebol. Sebaliknya, manfaatkan untuk mengendalikan aliran uangmu.

👉 Untuk lebih memahami cara mengelola finansial serta investasi syariah, terus ikuti konten artikel di shafiq.id.

👉 Update Terbaru Efek Investasi Syariah, Jangan Lewatkan!

SHAFIQ Penyelenggara layanan urun dana syariah (SCF Syariah) pertama yang mendapatkan izin serta diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)

SHAFIQ hadir untuk bantu kamu Investasi di Bisnis UKM Riil yang legal dan tanpa pelanggaran syariah. Urun dana bisa bantu bisnis berkembang—dan kamu juga berpeluang Raih Pendanaan hingga Rp10 Miliar! Caranya segera Daftar ya!
_______________
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk tujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/jual instrumen tertentu.
Share
slider-mobile