Berita & Artikel
Keuntungan Punya Prinsip Pay Yourself First untuk Keuangan yang Sehat
SHAFIQ Administrator
Selasa,
02-09-25
Prinsip Pay Yourself First | 2 Men read
Pernah Nggak, Gaji Habis Duluan?
Kebanyakan dari anak muda (nggak semua ya…) punya alur keuangan bulanan yang mirip: gaji baru masuk, langsung dipakai buat bayar tagihan, belanja, jajan, baru deh sisanya (kalau masih ada) ditabung.
Akhirnya, dana darurat, menabung atau investasi jadi kayak “opsional”, bukan prioritas.
Cek fakta miris ini…
Mengutip Kompas bahwa Indonesia saat ini menghadapi krisis tabungan. Data OJK dan survei Good Stats 2024 mencatat hanya 29% masyarakat yang rutin menabung tiap bulan, sementara lebih dari 70% masih bergantung pada pemasukan bulanan tanpa memiliki dana darurat.
Padahal kalau terus-terusan begitu, tujuan finansial jadi makin jauh. Nah, di sinilah konsep Pay Yourself First bisa jadi game changer. Mau coba?
Apakah Ini Alur Keuangan SHAFIQers Setiap Bulan?
Biasanya, orang mengatur uang dengan pola seperti ini:
GAJI MASUK ➡️ BAYAR TAGIHAN ➡️ BELANJA & JAJAN ➡️ LIHAT SISA ➡️ BARU NABUNG
Masalahnya, pola ini bikin menabung jadi “sisa hasil perang”. Seringnya, sisa itu… nggak ada.
Coba Strategi Pay Yourself First!
Nah, prinsip ini menawarkan cara pandang yang berbeda. Sebelum bayar cicilan, listrik, atau jajan, sisihkan dulu uang untuk tabungan dan investasi.
Anggap itu sebagai “tagihan wajib” yang nggak bisa diganggu gugat.
Dengan begitu, mindset kamu berubah: menabung dan investasi bukan lagi pilihan, tapi kewajiban.
Bagaimana Caranya?
Sederhana, tapi perlu disiplin. Setelah gaji masuk, langsung potong sekian persen untuk tabungan dan investasi. Atur auto-debet kalau perlu, biar nggak tergoda menghabiskannya duluan.
Anggap aja rekening tabungan dan investasi itu sama pentingnya dengan bayar listrik atau internet. Kalau telat bayar tagihan bisa kena denda, maka kalau telat investasi, “denda”-nya adalah masa depan yang nggak aman secara finansial.
Baca Juga:
Contoh Pembagian Persentase Gaji dengan Pay Yourself First
Biar lebih gampang, coba pakai patokan sederhana:
- 20% untuk tabungan & investasi (Pay Yourself First)
- 50% untuk kebutuhan pokok (tagihan, cicilan, makan, transportasi)
- 30% untuk gaya hidup & keinginan (hiburan,ngopi, traveling)
Angka ini bisa fleksibel sesuai kondisi, tapi kuncinya: tabungan & investasi jangan sampai nol.
Nanti Alurnya Akan Jadi Seperti Ini! Kalau konsisten menerapkan prinsip Pay Yourself First, alurnya akan berubah jadi:
GAJI MASUK ➡️ INVESTASI & TABUNGAN ➡️ BARU SISANYA UNTUK KEBUTUHAN & KEINGINAN
Hasilnya? Keuangan jadi lebih sehat, tujuan finansial makin realistis tercapai, dan kamu nggak lagi merasa bersalah setiap kali “gagal menabung”.
Hal ini sejalan dengan program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama berbagai pihak menggalakkan budaya menabung sejak dini lewat program Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2025, agar kesadaran finansial masyarakat makin luas. (infobanknews.com)
Prinsip Pay Yourself First mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya signifikan. Dengan memprioritaskan diri sendiri lebih dulu, kamu sedang memastikan masa depan finansial yang lebih tenang.
👉 Kalau ingin belajar lebih banyak soal tabungan, investasi, dan cara membangun keuangan syariah yang sehat, terus ikuti konten artikel di shafiq.id.
SHAFIQ Penyelenggara layanan urun dana syariah (SCF Syariah) pertama yang mendapatkan izin serta diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
SHAFIQ hadir untuk bantu kamu Investasi di Bisnis UKM Riil yang legal dan tanpa pelanggaran syariah. Urun dana bisa bantu bisnis berkembang—dan kamu juga berpeluang Raih Pendanaan hingga Rp10 Miliar! Caranya segera Daftar ya!
_______________
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk tujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/jual instrumen tertentu.