Berita & Artikel
5 Persiapan Finansial sebelum Menikah
SHAFIQ Administrator
Selasa, 31-03-26

Menikah di bulan Syawal | 3 Min read

Menikah di Bulan Syawal? Boleh ya?

Setelah Ramadan berlalu, bulan Syawal hadir dengan berbagai amalan sunnah. Selain puasa 6 hari, ada satu sunnah yang sering terlupakan: anjuran menikah di bulan Syawal.

Dalam riwayat Aisyah binti Abu Bakar Radhiallahu ‘anha, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahinya di bulan Syawal. Hal ini sekaligus mematahkan mitos jahiliyah yang menganggap menikah di bulan tersebut membawa kesialan.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan Syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal.” (HR. Muslim)

Artinya, dalam Islam, tidak ada waktu sial untuk menikah. Justru, pernikahan adalah bagian dari ibadah panjang yang perlu dipersiapkan dengan matang—termasuk dari sisi finansial.

Baca Juga:

Pernikahan Jadi Raja-Ratu Sehari? Tapi Perjalanan Panjang

Menikah bukan hanya tentang akad lalu pesta yang mewah. Ini adalah awal dari perjalanan hidup baru yang membutuhkan kesiapan mental, emosional, dan juga keuangan.

Dalam Al-Qur’an, Allah menjanjikan kecukupan bagi mereka yang menikah dengan niat baik.

”Nikahkan orang-orang yang sendirian di antara kamu dan hamba-hamba sahayamu, laki-laki atau perempuan, yang shalih dan telah pantas menikah. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karunia-Nya. Allah itu Mahaluas pemberian-Nya dan Dia Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 32)

Allah Ta’ala akan senantiasa menolong hambanya yang hendak menikah dengan niat menjaga diri kita dari fitnah. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Ada tiga kelompok manusia yang pasti ditolong oleh Allah: (1) mujahid di jalan Allah; (2) pemuda yang menikah untuk menjaga kehormatan diri; dan (3) budak yang berusaha memerdekakan diri (agar lebih leluasa beribadah).” (HR. Ahmad no. 7416. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menilai bahwa sanad hadits ini kuat)

Namun, ikhtiar tetap diperlukan, termasuk dalam mengelola keuangan agar rumah tangga berjalan lebih stabil.

Kenapa Persiapan Finansial Itu Penting?

Banyak pasangan fokus pada hari pernikahan, tapi lupa memikirkan kehidupan setelahnya.

Padahal, tantangan terbesar justru dimulai setelah akad. Tanpa perencanaan keuangan yang baik, potensi konflik bisa muncul dari hal-hal sederhana seperti pengeluaran harian.

Sahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata,

”Aku heran terhadap orang yang tidak mencari kekayaan lewat pernikahan. Padahal Allah telah berfirman yang artinya, ’Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karunia-Nya’.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 12: 241)

Di sinilah pentingnya membangun fondasi finansial sejak sebelum menikah.

Ini Persiapan Finansial Sebelum Menikah

Agar kehidupan rumah tangga lebih tenang, berikut beberapa hal yang perlu kamu siapkan:

  1. Pastikan Sudah Memiliki Penghasilan
    Memiliki sumber pendapatan adalah pondasi utama. Setidaknya, salah satu atau kedua pasangan sudah memiliki penghasilan tetap. Ini penting agar setelah menikah, kamu bisa mandiri tanpa bergantung pada orang tua. Jangan lupa, diskusikan juga kondisi keuangan secara terbuka, termasuk jika ada utang.

  2. Rencanakan Biaya Akad dan Pernikahan
    Besar atau kecilnya acara, tetap membutuhkan biaya. Mulai dari administrasi di KUA hingga konsumsi untuk keluarga, semuanya perlu dihitung. Menikah sederhana bukan berarti tanpa perencanaan.

  3. Tentukan Tempat Tinggal
    Tempat tinggal akan sangat mempengaruhi kondisi finansial setelah menikah. Apakah akan menyewa, membeli rumah, atau tinggal bersama orang tua? Semua opsi punya konsekuensi masing-masing. Diskusikan dengan matang agar tidak menjadi beban di kemudian hari.

  4. Susun Sistem Keuangan Rumah Tangga
    Setelah menikah, penting untuk menentukan pola pengelolaan keuangan. Apakah penghasilan digabung? Atau dibagi berdasarkan tanggung jawab? Siapa yang mengelola keuangan? Kesepakatan ini penting untuk menghindari konflik di masa depan.

  5. Buat Tujuan Keuangan Bersama
    Pernikahan yang sehat biasanya punya arah yang jelas, termasuk dalam hal keuangan. Misalnya, ingin membeli rumah dalam 3–5 tahun ke depan. Maka strategi yang bisa dilakukan adalah menyewa terlebih dahulu sambil menabung uang muka. Dengan begitu, setiap keputusan finansial jadi lebih terarah dan tidak impulsif.

Menikah, Sederhana, dan Aman Secara Finansial

Menikah di bulan Syawal bisa menjadi momentum yang tepat untuk memulai hidup baru dengan lebih sederhana dan penuh perhitungan.

Tidak harus mewah, yang penting berkah dan berkelanjutan.

Dalam konteks finansial, ini juga menjadi awal untuk membangun kebiasaan yang sehat—Cek 2 poin ini:

  1. Pernikahan adalah ibadah panjang yang tidak hanya membutuhkan ‘rasa cinta’, tapi juga kesiapan finansial.

  2. Dengan perencanaan yang matang, kamu tidak hanya membangun rumah tangga yang harmonis, tetapi juga lebih tahan terhadap tantangan ekonomi di masa depan.
Semoga pernikahan yang SHAFIQers bangun menjadi sebab keridhoan Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya.” (HR. Bukhari no. 5056 dan Muslim no. 1400)

Sebagai langkah memperkuat finansial keluarga, mempertimbangkan investasi berbasis syariah melalui Shafiq.id dan terhubung dengan sektor riil bisa menjadi pilihan bijak.

Selain membantu mengembangkan aset, langkah ini juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, khususnya UMKM.

Baca Juga:
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI.

Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
  • Berinvestasi pada bisnis sektor riil
  • Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
  • Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
  • Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Share
slider-mobile