Derita Pencinta Dunia | 2 Min read
"Pernah merasa sudah memiliki banyak, tetapi hati tetap gelisah?"
Terkadang yang membuat seseorang lelah bukan karena kurang harta, melainkan karena tidak pernah merasa cukup.
Islam tidak melarang kita bekerja keras, berbisnis, atau menjadi kaya. Namun, yang perlu dijaga adalah jangan sampai dunia berpindah dari tangan ke dalam hati.
Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengingatkan:
"Orang yang mencintai harta dunia secara berlebihan tidak akan lepas dari tiga penderitaan:
1. Kekalutan pikiran yang tidak akan pernah hilang.
2. Keletihan yang berkepanjangan.
3. Penyesalan yang tiada akhirnya."
(Ighatsatul Lahafan, 1/37).
Nasihat ini bukan berarti kita dilarang mencari rezeki. Justru seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja, berusaha, dan memakmurkan bumi dengan cara yang halal.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika harta menjadi tujuan utama hidup, hingga mengorbankan ibadah, keluarga, kesehatan, bahkan prinsip-prinsip syariah.
Harta sejatinya hanyalah titipan. Ia bisa menjadi jalan menuju keberkahan jika digunakan dengan benar, tetapi juga bisa menjadi sumber kegelisahan jika terlalu dicintai.
Karena itu, jadikan dunia sebagai sarana, bukan tujuan.
"Letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu."
Saat harta berada di tangan, kita mampu mengelolanya dengan bijak. Namun ketika harta telah menguasai hati, kitalah yang akhirnya dikendalikan olehnya.
Semoga Allah ﷻ menjadikan kita hamba yang bersyukur ketika diberi kelapangan, bersabar ketika diuji, dan mampu menggunakan setiap nikmat untuk meraih kebahagiaan dunia sekaligus akhirat.
Baca Juga:
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Sumber: