Terjebak Hedonic Treadmill? | 3 Min read
Gaji naik, tapi tabungan tetap segitu-segitu aja? Atau malah makin besar penghasilan, makin besar juga pengeluaran? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam fenomena yang disebut hedonic treadmill.
Istilah ini diperkenalkan dalam dunia psikologi untuk menggambarkan kecenderungan seseorang yang terus mengejar standar hidup lebih tinggi setelah memperoleh peningkatan pendapatan atau kenyamanan.
Akibatnya, rasa puas hanya bertahan sebentar, lalu muncul keinginan baru yang membuat seseorang terus berlari tanpa pernah merasa cukup.
Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi? Dan bagaimana Islam memandang fenomena tersebut?
Baca Juga:
Hedonic treadmill adalah kondisi ketika seseorang cepat beradaptasi dengan peningkatan kondisi hidup. Setelah mendapatkan kenaikan gaji, bonus, atau membeli barang impian, rasa bahagia biasanya hanya berlangsung sementara. Tak lama kemudian muncul keinginan baru yang membuat pengeluaran ikut meningkat.
The hedonic treadmill, also known as hedonic adaptation, is the conjecture that humans quickly return to a relatively stable level of happiness (or sadness) despite major positive or negative events or life changes. According to this theory, as a person makes more money, expectations and desires rise in tandem, which results in no permanent gain in happiness. (Wikipedia)
Akibatnya, meski pendapatan bertambah, kondisi keuangan belum tentu menjadi lebih baik.
Ada beberapa faktor yang membuat fenomena ini semakin sering terjadi.
Jika terus dibiarkan, hedonic treadmill dapat menyebabkan:
Ironisnya, seseorang bisa memiliki penghasilan besar tetapi tetap mengalami tekanan finansial.
Baca Juga:
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
Islam mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari hati yang merasa cukup.
Rasulullah ﷺ bersabda "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah hati yang merasa cukup." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sikap qana'ah mengajarkan seorang muslim untuk menerima rezeki yang Allah berikan dengan penuh rasa syukur, tanpa kehilangan semangat untuk terus berikhtiar.
Qana'ah bukan berarti berhenti berkembang atau bermalas-malasan. Sebaliknya, seorang muslim tetap bekerja keras, meningkatkan kualitas diri, dan mencari rezeki yang halal, namun tidak menjadikan harta sebagai ukuran utama kebahagiaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Rasa syukur membuat hati lebih tenang, sementara qana'ah menjaga kita agar tidak terus-menerus mengejar gaya hidup yang sebenarnya tidak diperlukan.
Hedonic treadmill adalah jebakan finansial yang dapat dialami siapa saja, termasuk mereka yang memiliki penghasilan besar. Karena itu, meningkatkan pendapatan saja tidak cukup.
Yang lebih penting adalah mengelola pengeluaran, memiliki tujuan keuangan yang jelas, serta membangun rasa syukur dan qana'ah dalam memandang rezeki.
Semoga Allah ﷻ memberikan kepada kita rezeki yang halal, harta yang berkah, hati yang selalu bersyukur, dan kemampuan untuk mengelolanya dengan bijaksana.
Baca Juga:
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.