Berita & Artikel
Harga Kebutuhan Naik, Gaji Tetap! Begini Cara Mengatur Keuangan Keluarga agar Tidak Tekor
SHAFIQ Administrator
Kamis, 22-10-26

Cara mengatur keuangan keluarga | 3 Min read

Harga kebutuhan sehari-hari naik, tetapi penghasilan masih sama?

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga sejumlah bahan pokok makanan di Indonesia dibanding setahun lalu. Tak Hanya Beras, Beberapa Bahan Pokok yang Harganya Naik pada September 2026.

Bagi banyak keluarga, situasi ini bisa terasa menyesakkan. Uang belanja yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sebulan kini mungkin harus diatur lebih ketat, sementara biaya pendidikan, transportasi, tagihan, dan kebutuhan lainnya tetap berjalan.

Mengutip CNBC bahwa inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan. Sementara itu, inflasi komponen harga bergejolak atau volatile food tercatat sebesar 5,03% secara tahunan. Sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi tersebut antara lain daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi.

Bagi keluarga, angka-angka tersebut membawa satu pesan penting ketika harga kebutuhan meningkat, pengelolaan keuangan perlu semakin terarah agar pengeluaran tetap terkendali dan kebutuhan masa depan tidak terabaikan.

Baca Juga:

Lantas, bagaimana cara menjaga keuangan keluarga agar tidak tekor, tetap bisa menabung, memiliki dana darurat, dan mulai merencanakan investasi sesuai prinsip syariah?

7 Cara Mengatur Keuangan Keluarga saat Harga Kebutuhan Naik

Menghadapi kenaikan harga tidak selalu berarti keluarga harus memangkas semua pengeluaran. Berikut tujuh cara yang bisa mulai diterapkan.

  1. Evaluasi Anggaran, Bukan Sekadar Mengurangi Belanja
    Ketika harga kebutuhan naik, langkah pertama adalah memeriksa kembali arus kas keluarga. Catat seluruh pemasukan dan pengeluaran agar kamu mengetahui apakah masalahnya berasal dari kenaikan biaya kebutuhan pokok, pengeluaran konsumtif, atau kewajiban bulanan yang terlalu besar.

    Kamu bisa menentukan pengeluaran yang perlu dipertahankan, dikurangi, atau ditunda. Tujuannya bukan membuat hidup semakin sulit, melainkan memastikan uang yang tersedia digunakan sesuai kebutuhan.

  2. Atur Ulang Belanja Bulanan dengan Lebih Strategis
    Belanja kebutuhan pokok merupakan salah satu pos yang mudah terdampak perubahan harga. Karena itu, keluarga perlu lebih cermat dalam menyusun daftar belanja dan memilih bahan makanan.

    Misalnya, ketika harga suatu bahan pangan meningkat, kamu bisa menyesuaikan menu dengan bahan lain yang lebih ekonomis. Selama kebutuhan gizi keluarga tetap diperhatikan, strategi ini dapat membantu menjaga anggaran belanja tanpa harus mengorbankan kebutuhan penting.

  3. Jangan Menunggu Akhir Bulan untuk Menabung
    Cobalah menyisihkan uang segera setelah menerima penghasilan. Nominalnya tidak harus besar. Jika kondisi keuangan sedang ketat, mulailah dari jumlah yang benar-benar mampu disisihkan tanpa mengganggu kebutuhan pokok.

  4. Bangun Dana Darurat untuk Menghadapi Situasi Tak Terduga
    Kenaikan harga bukan satu-satunya risiko yang perlu diantisipasi. Keluarga juga bisa menghadapi kehilangan pekerjaan, penurunan penghasilan, biaya kesehatan, atau perbaikan rumah yang mendesak.

    Dana darurat berfungsi sebagai penyangga ketika kejadian tersebut muncul. Dengan adanya cadangan dana, keluarga tidak harus langsung mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yang tidak direncanakan.

  5. Kendalikan Utang dan Hindari Gali Lubang Tutup Lubang
    Evaluasi seluruh kewajiban bulanan, termasuk jumlah pembayaran, biaya, dan tanggal jatuh tempo. Jika beban pembayaran sudah mengganggu kebutuhan pokok, susun prioritas penyelesaian utang dan hindari menambah kewajiban konsumtif.

    Bagi keluarga muslim, penting pula untuk memperhatikan akad dan prinsip syariah dalam transaksi keuangan. Jangan sampai upaya memenuhi kebutuhan jangka pendek justru menimbulkan persoalan keuangan dan ketidaksesuaian syariah yang tidak dipahami sejak awal.

  6. Cari Peluang Menambah Penghasilan Sesuai Kemampuan
    Pilih peluang yang sesuai dengan keterampilan, waktu, dan modal yang tersedia. Misalnya, mengambil freelancer, menawarkan jasa berdasarkan skill, membuka usaha kecil sesuai kebutuhan market, atau monetisasi skill digital.

    Namun, jangan langsung mengeluarkan modal besar hanya karena tergiur peluang pendapatan tambahan. Hitung biaya operasional, waktu yang dibutuhkan, dan potensi risikonya terlebih dahulu.

  7. Mulai Investasi Syariah Setelah Kebutuhan Dasar Terjaga
    Pilih instrumen berdasarkan tujuan, jangka waktu, kemampuan menanggung risiko, dan kebutuhan likuiditas. Untuk investasi syariah, pelajari akad, mekanisme transaksi, legalitas penyelenggara, serta risiko produk yang ditawarkan.

    Salah satu alternatif yang dapat dipelajari adalah securities crowdfunding (SCF) syariah, yaitu pendanaan usaha melalui platform yang mempertemukan pemodal dengan pihak yang membutuhkan pendanaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga:

Menjaga Keuangan Keluarga, Menjaga Keberkahan Harta

Bagi SHAFIQers, perencanaan keuangan juga perlu mempertimbangkan aspek halal dan keberkahan harta. Selain memastikan pengeluaran sesuai kemampuan, perhatikan pula cara memperoleh penghasilan, memenuhi kewajiban, dan memilih instrumen untuk mengembangkan aset.

Dalam Islam, harta bukan hanya sesuatu yang dikumpulkan, melainkan amanah yang perlu dikelola secara bertanggung jawab. Karena itu, ikhtiar memperbaiki kondisi finansial sebaiknya berjalan bersama upaya menjaga prinsip syariah dalam aktivitas keuangan.

Semoga Allah memberikan kecukupan dan keberkahan pada rezeki kita serta memudahkan setiap keluarga dalam memenuhi kebutuhan dan mempersiapkan masa depan.

Baca Juga:

_______________

SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:

  1. Berinvestasi pada bisnis sektor riil
  2. Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
  3. Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
  4. Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.

⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!

⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Sumber:

Share
slider-mobile