Berita & Artikel
Pintar Mengatur Gaji dengan Metode 50 30 20
SHAFIQ Administrator
Rabu,
09-09-26
50 30 20 Rule | 3 Min read
Masih menerima gaji setiap bulan? Alhamdulillah. Itu adalah nikmat yang patut disyukuri.
Salah satu bentuk syukur selain mengucapkannya Hamdallah, juga mengelola harta dengan bijak. Penghasilan yang diperoleh perlu diatur agar dapat memenuhi kebutuhan, memberikan ruang untuk menikmati hasil kerja, sekaligus membantu mempersiapkan masa depan.
Salah satu metode pengelolaan keuangan yang cukup populer adalah 50/30/20 Rule.
Baca Juga:
Apa Itu Prinsip 50/30/20?
50/30/20 Rule is a popular budgeting method that divides your monthly after-tax (net) income into three specific spending categories: 50% for needs, 30% for wants, and 20% for savings.[investopedia.com]
Metode 50/30/20 merupakan pendekatan dalam membuat anggaran dengan membagi penghasilan bersih bulanan ke dalam tiga kelompok utama:
- 50% untuk kebutuhan
- 30% untuk keinginan
- 20% untuk tabungan dan investasi
Pembagian ini bukan aturan yang mutlak. Kondisi setiap orang berbeda, sehingga persentasenya dapat disesuaikan dengan penghasilan, tanggungan, kondisi ekonomi, serta tujuan keuangan masing-masing.
Namun, prinsip tersebut dapat menjadi titik awal untuk membantu kita melihat ke mana saja penghasilan digunakan.
50% untuk Kebutuhan! Pastikan yang Utama Terpenuhi
Setengah dari penghasilan dapat dialokasikan untuk berbagai kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Beberapa contohnya:
- Hunian, sewa atau cicilan rumah serta tagihan utilitas.
- Makanan, kebutuhan dapur dan konsumsi sehari-hari.
- Transportasi, bensin, ongkos kendaraan umum, atau kebutuhan transportasi lainnya.
- Kesehatan, biaya pemeriksaan dan kebutuhan medis.
- Pendidikan, biaya sekolah, kuliah, atau pendidikan yang diperlukan.
Kebutuhan sebaiknya menjadi prioritas sebelum pengeluaran lainnya. Dengan begitu, kondisi finansial memiliki fondasi yang lebih kuat.
30% untuk Keinginan! Saatnya Menikmati Hasil Kerja Keras
Mengatur keuangan bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja.
Sebagian penghasilan dapat digunakan untuk memenuhi keinginan selama tetap sesuai kemampuan dan tidak mengganggu kebutuhan utama. Misalnya:
- Mengganti gadget untuk menunjang pekerjaan.
- Membeli pakaian yang memang dibutuhkan.
- Meningkatkan kendaraan untuk mendukung mobilitas.
- Rekreasi bersama keluarga.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan keinginan sebaiknya tetap dikendalikan oleh prioritas, bukan sekadar mengikuti gengsi.
Jangan sampai keinginan yang terus bertambah membuat pengeluaran melebihi kemampuan.
20% untuk Tabungan dan Investasi
Bagian yang tidak kalah penting adalah menyisihkan penghasilan untuk masa depan. Sekitar 20% dapat dialokasikan untuk beberapa tujuan, seperti:
- Tabungan dan dana darurat
Digunakan untuk mempersiapkan kebutuhan jangka panjang sekaligus menghadapi kondisi tidak terduga.
- Investasi
Sebagian dana dapat ditempatkan pada instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan, profil risiko, dan prinsip yang diyakini, seperti saham syariah atau sukuk.
- Persiapan masa pensiun
Menyisihkan dana sejak lebih awal dapat membantu mempersiapkan kebutuhan ketika sudah tidak lagi aktif bekerja.
Yang terpenting bukan mencapai angka 20%, tetapi membangun kebiasaan menyisihkan penghasilan secara konsisten.
Baca Juga:
- Siklus Muslim Membagikan Hartanya
- Temukan peluang investasi syariah yang bisa kamu mulai hari ini
50/30/20 Rule Bukan Rumus yang Harus Dipaksakan
Perlu diingat, metode 50/30/20 hanyalah salah satu pendekatan dalam mengatur keuangan. Catat 2 poin ini:
- Seseorang dengan penghasilan dan tanggungan tertentu mungkin perlu mengalokasikan lebih dari 50% untuk kebutuhan. Sementara orang lain mungkin memiliki ruang lebih besar untuk menabung dan berinvestasi.
- Jadi, jangan merasa gagal hanya karena belum mampu mengikuti persentase tersebut secara persis.
Gunakan prinsipnya sebagai alat untuk mengevaluasi kondisi keuangan, kemudian sesuaikan dengan kemampuan.
Mengelola Gaji adalah Bagian dari Bersyukur
Gaji yang diterima setiap bulan merupakan amanah yang perlu digunakan dengan penuh tanggung jawab.
Memenuhi kebutuhan, tidak berlebihan dalam berbelanja, menyiapkan dana untuk masa depan, dan menyisihkan sebagian harta untuk tujuan yang baik merupakan bagian dari upaya mengelola nikmat tersebut.
Bagi seorang muslim, tujuan mengatur keuangan bukan semata-mata mengejar kebebasan finansial, tetapi juga memastikan harta diperoleh dan digunakan dengan cara yang baik serta sesuai prinsip syariah.
Jika sebagian penghasilan sudah dialokasikan untuk investasi, pastikan instrumen yang dipilih dipahami dengan baik, termasuk skema, potensi keuntungan, tenor, serta risikonya.
Baca Juga:
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa: - Berinvestasi pada bisnis sektor riil
- Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
- Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
- Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.