Berita & Artikel
Sudah Buat Resolusi Tetap Saja Gagal? Ini Solusinya
SHAFIQ Administrator
Kamis, 01-01-26

Resolusi bisnis 2026? | 3 Min read

Resolusi bisnis 2026 sudah dibuat?
Apakah works atau bakal gagal lagi?

Hampir setiap pergantian tahun, banyak pebisnis bersemangat menyusun resolusi. Target sudah ditulis rapi, niat terasa kuat, bahkan motivasi sedang tinggi. Namun beberapa bulan berjalan, resolusi itu perlahan ditinggalkan.

Hal di atas disebabkan bukan karena malas semata, tapi karena ada kesalahan mendasar yang sering luput disadari.

To get even more specific with our example, it is important that the goal be measurable. How will you know that you’ve reached your goal if there isn’t a quantifiable component involved? Try, “grow recurring revenues by 100% over 2025 year end numbers.” You’ll know when you’ve grown 2025 revenues by 100%. (preferredcfo)

Resolusi gagal bukan soal kurangnya tekad—melainkan strategi yang tidak realistis dan tidak berkelanjutan.

Baca Juga:

Masalah Utama Resolusi yang Sering Terjadi

Banyak resolusi dibuat terlalu besar (baca: ambisius) tanpa perencanaan detail. Target terlalu tinggi, tapi langkahnya samar. Akibatnya, saat menghadapi tantangan pertama, semangat langsung turun.

Beberapa penyebab yang sering terjadi:

  1. Resolusi dibuat hanya ikut tren semata
  2. Target terlalu umum, tidak spesifik/ jelas
  3. Tidak ada tenggat waktu yang realistis
  4. Tidak disertai rencana cadangan saat gagal di tengah jalan (Plan A/B)

Resolusi yang baik seharusnya membantu, bukan justru membebani.

Resolusi Perlu Sistem, Bukan Sekadar Niat

Niat baik memang penting, tetapi tanpa sistem dan strategi, resolusi hanya bertahan di awal. Sistem di sini berarti kebiasaan kecil yang konsisten dan bisa diukur.

Alih-alih menargetkan perubahan besar sekaligus, memecah resolusi menjadi langkah-langkah kecil justru lebih efektif. Progres kecil yang konsisten jauh lebih berkelanjutan dibanding target besar yang sulit dijaga.

Belajar dari Kegagalan, Bukan Mengulang Pola yang Sama

Resolusi yang gagal bukan akhir dari segalanya. Justru di situ ada bahan evaluasi. Apa yang membuat gagal? Terlalu ambisius, tidak sesuai kondisi, atau kurang dukungan?

Evaluasi ini penting agar resolusi berikutnya tidak mengulang kesalahan yang sama. Tanpa refleksi, resolusi hanya akan menjadi ritual tahunan tanpa dampak nyata.

Mengaitkan Resolusi dengan Tujuan Jangka Panjang

Resolusi akan lebih bertahan jika terhubung dengan tujuan besar—baik karier, bisnis, maupun finansial. Ketika resolusi memiliki arah yang jelas, motivasi akan lebih stabil karena terasa relevan dengan masa depan.

Di sinilah banyak pelaku usaha dan profesional mulai menggeser resolusinya: bukan sekadar “ingin berkembang”, tetapi fokus pada scale bisnis, memperkuat struktur, dan membuka akses pendanaan yang sehat.

Resolusi gagal bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena sering kali kita salah menyusun strategi. Dengan tujuan yang realistis, sistem yang konsisten, dan evaluasi berkala, resolusi tidak hanya bertahan—tetapi benar-benar membawa perubahan.

2026 adalah momen terbaik untuk scale bisnis dan meraih pendanaan bisnis melalui SHAFIQ. Bukan sekadar resolusi, tapi langkah nyata membangun usaha yang tumbuh berkelanjutan dan berbasis sektor riil.

Baca Juga:

_______________

SHAFIQ Penyelenggara layanan urun dana syariah (SCF Syariah) Pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Caranya segera DAFTAR ya!

⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!

⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Share
slider-mobile