Berita & Artikel
Fatherless di Kehidupan Keluarga dan Solusinya
SHAFIQ Administrator
Minggu, 26-07-26

Fatherless itu seperti apa? | 3 Min read

"Ayah setiap hari pulang ke rumah, tapi kenapa tetap terasa jauh?"

Kalimat seperti ini mungkin pernah dirasakan oleh sebagian anak. Fenomena fatherless memang kembali ramai diperbincangkan, tetapi ternyata maknanya tidak selalu berarti seorang anak kehilangan ayah karena wafat atau berpisah.

Fatherless juga bisa terjadi ketika sosok ayah hadir secara fisik, namun minim keterlibatan dalam kehidupan anak. Sibuk bekerja, lelah, atau terlalu fokus mengejar kebutuhan ekonomi terkadang membuat waktu bersama keluarga semakin berkurang.

Berdasarkan fatherless country rank Indonesia sebagai salah satu fatherless country atau negara tanpa ayah tertinggi ke-3 di dunia. Ini ditandai dengan masyarakat Indonesia yang memiliki kecenderungan tidak adanya peran atau keterlibatan sosok ayah yang hangat dalam kehidupan sehari-hari anak di rumah.

Lalu, bagaimana Islam memandang peran ayah? Dan apa yang bisa dilakukan agar keluarga tetap tumbuh dengan hangat?

Baca Juga:

Apa Itu Fatherless?

Secara sederhana, fatherless adalah kondisi ketika seorang anak tidak mendapatkan peran ayah secara optimal dalam proses tumbuh kembangnya.

Artinya, ayah mungkin masih tinggal serumah, tetapi jarang berkomunikasi, tidak terlibat dalam pengasuhan, atau kurang membangun kedekatan emosional dengan anak.

Padahal, kehadiran ayah bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga menjadi pembimbing, pelindung, sekaligus teladan dalam keluarga.

Mengapa Peran Ayah Sangat Penting?

Anak membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kehadiran ayah dapat membantu anak belajar banyak hal, seperti:
  1. Berani menghadapi tantangan.
  2. Belajar bertanggung jawab.
  3. Mengendalikan emosi.
  4. Menghargai orang lain.
  5. Memiliki rasa percaya diri yang lebih baik.
Sebaliknya, ketika hubungan ayah dan anak kurang terbangun, sebagian anak berpotensi mengalami kesulitan dalam mengelola emosi, mencari figur pengganti di luar rumah, hingga lebih rentan terhadap pengaruh lingkungan yang negatif.

Tentu setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda, sehingga dampaknya juga tidak selalu sama pada setiap anak.

Baca Juga:

Apa Penyebab Fatherless?

Fenomena ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya:
  1. Kesibukan Mencari Nafkah
    Banyak ayah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Niatnya tentu baik. Namun jika seluruh energi habis di tempat kerja, waktu berkualitas bersama keluarga bisa ikut berkurang.

  2. Pernikahan Jarak Jauh
    Sebagian keluarga menjalani long distance marriage (LDM) karena tuntutan pekerjaan. Jika komunikasi tidak dijaga dengan baik, hubungan antara ayah dan anak dapat menjadi renggang seiring waktu.

  3. Kurangnya Quality Time
    Tidak sedikit ayah yang sebenarnya berada di rumah, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan, televisi, atau gawai dibanding berbincang dengan anak. Padahal, terkadang anak hanya membutuhkan perhatian sederhana.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Tidak harus menunggu liburan panjang untuk menjadi ayah yang hadir. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
  1. Luangkan waktu berbicara dengan anak setiap hari
  2. Dengarkan cerita mereka tanpa terburu-buru menghakimi
  3. Beribadah bersama keluarga
Serta menjadi contoh dalam kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak. Mendukung peran ibu sebagai partner dalam mendidik anak. Seorang anak mungkin tidak akan mengingat hadiah yang mahal, tetapi mereka akan mengingat waktu yang dihabiskan bersama orang tuanya.

Menjaga Keseimbangan Antara Karier dan Keluarga

Islam mengajarkan bahwa mencari nafkah adalah ibadah. Namun, keluarga juga merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, keberhasilan seorang ayah bukan hanya diukur dari besarnya penghasilan, tetapi juga dari hadirnya kasih sayang, pendidikan, dan teladan yang ia berikan kepada keluarganya.

“Rasulullah adalah orang yang paling penyayang kepada anak-anak dan keluarga.” (Hadits shahih riwayat Ibnu Asakir. Lihat Shahih Al-Jami’ no. 4797)

Bekerja keras itu penting, tetapi jangan sampai kesibukan membuat keluarga kehilangan sosok ayah yang sebenarnya mereka butuhkan.

Baca Juga:

Ayah Bukan Hanya Memenuhi Kebutuhan Materi

Menjadi ayah tidak hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga menghadirkan rasa aman, perhatian, kasih sayang dan teladan bagi keluarga.

Penyair berkata, “Dan anak-anak kita tumbuh sesuai dengan apa yang ayahnya biasakan kepada dirinya.”

Semoga Allah ﷻ memberikan keberkahan pada rezeki kita, memudahkan ikhtiar mencari nafkah yang halal, serta memberikan waktu yang berkualitas untuk mendampingi pasangan dan anak-anak.

Pada akhirnya, keluarga yang kuat tidak hanya dibangun dengan harta, tetapi juga dengan kehadiran orang tua yang saling melengkapi.
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
  1. Berinvestasi pada bisnis sektor riil
  2. Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
  3. Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
  4. Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Sumber:

Share
slider-mobile