Berita
Apa penyebab harga saham naik dan turun ?
SHAFIQ Administrator
Selasa, 21-06-22

5 min read

Apa Kabar SHAFIQers?

Pernah ga rebutan barang inceran karena susah dapetinnya? Terus rela antri walaupun harganya selangit?

Tapi kenapa ya, harga barang yang langka itu tinggi?

Harga suatu barang ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Saat barang tersedia banyak di pasar, maka harga cenderung rendah dan sebaliknya, kelangkaan menyebabkan harga barang di pasar menjadi tinggi. Begitu pula dengan saham. Harga saham ditentukan di pasar, di mana penawaran penjual memenuhi permintaan pembeli. Akan tetapi, pernahkah Anda bertanya faktor apa saja yang mempengaruhi naik turunnya harga saham?

Sebenarnya, tidak ada persamaan pasti yang bisa memberitahu kita bagaimana harga saham bergerak. Namun, selain mekanisme permintaan dan penawaran, setidaknya ada tiga faktor utama yang dapat dikatakan mempengaruhi naik turunnya harga saham yaitu faktor fundamental, faktor teknikal, dan sentimen pasar.


Faktor Fundamental

Faktor fundamental mendorong harga saham berdasarkan pendapatan dan profitabilitas perusahaan dari memproduksi dan menjual barang dan jasa. Pendapatan dan profitabilitas perusahaan menggambarkan kinerja perusahaan yang dijadikan acuan bagi para investor maupun analis fundamental dalam melakukan analisis terhadap saham perusahaan. Terdapat beberapa indikator yang dijadikan sebagai bahan analisis para investor dan analis saham seperti adalah tingkat dividen tunai, tingkat rasio utang, rasio nilai buku/Price to Book Value (PBV), earnings per share (EPS), dan tingkat laba suatu perusahaan.

Saat Anda membeli saham, Anda membeli bagian dari seluruh aliran pendapatan perusahaan di masa depan. Sebagian dari pendapatan perusahaan dapat dibagikan sebagai dividen, sedangkan sisanya akan disimpan oleh perusahaan untuk diinvestasikan kembali. Perusahaan yang menawarkan Dividend Payout Ratio (DPR) yang lebih besar cenderung disukai investor karena memberikan imbal hasil yang tinggi. Dalam praktiknya, DPR berdampak pada harga saham.

Selain itu, Earning per Share (EPS) juga berpengaruh terhadap pergerakan harga saham. EPS menggambarkan pengembalian investor atas investasi mereka. EPS yang tinggi mendorong para investor untuk membeli saham tersebut yang menyebabkan harga saham bergerak naik.

Tingkat rasio utang dan PBV juga memberikan efek signifikan terhadap harga saham. Umumnya, perusahaan yang memiliki tingkat rasio utang yang tinggi adalah perusahaan yang sedang bertumbuh. Perusahaan tersebut biasanya menggunakan dana yang mereka dapatkan untuk mengembangkan bisnisnya. Investor melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang positif bagi masa depan perusahaan sehingga permintaan akan saham tersebut menjadi tinggi dan harganya menjadi naik.


Faktor Teknikal

Faktor fundamental dapat dikatakan sangat dipengaruhi oleh internal perusahaan, namun harga saham tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal saja. Kondisi eksternal juga biasanya dapat mempengaruhi pergerakan harga saham walaupun beberapa di antaranya berpengaruh secara tidak langsung. Misalnya, pertumbuhan ekonomi secara tidak langsung berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Berikut adalah faktor-faktor teknikal yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga saham:

  1. Kondisi Makroekonomi

    Naik atau turunnya suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Sentral

    Naik turunnya suku bunga perbankan dipengaruhi oleh suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Sentral. Perusahaan yang memiliki hutang bank sedikit banyak terpengaruh dengan pergerakan suku bunga. Ketika suku bunga perbankan naik tinggi, harga saham yang diperdagangkan di bursa akan cenderung turun tajam. Hal ini dapat terjadi setidaknya karena dua hal. Pertama, ketika suku bunga perbankan naik, banyak investor yang mengalihkan investasinya ke instrumen perbankan semisal deposito. Dengan naiknya suku bunga tersebut, investor dapat meraup keuntungan yang lebih banyak. Kedua, bagi perusahaan, ketika suku bunga perbankan naik, mereka akan cenderung untuk meminimalkan kerugian akibat dari meningkatnya beban biaya bunga. Hal ini terjadi karena sebagian besar perusahaan memiliki utang kepada perbankan.

    Tingkat inflasi

    Secara historis, inflasi rendah memiliki korelasi terbalik yang kuat dengan valuasi perusahaan (inflasi rendah berdampak pada valuasi yang tinggi dan inflasi tinggi berdampak pada valuasi yang rendah). Di sisi lain, deflasi, umumnya buruk untuk saham karena menandakan hilangnya kekuatan harga bagi perusahaan.

    Fluktuasi Kurs Rupiah Terhadap Mata Uang Asing

    Bagi perusahaan yang memiliki beban utang pada mata uang asing atau menyimpan kas dalam mata uang asing tentunya akan terdampak dengan adanya pelemahan atau penguatan kurs rupiah. Selain itu, perusahaan yang banyak melakukan perdagangan internasional pun sangat terpengaruh dengan pergerakan kurs rupiah. Apabila kurs rupiah menguat tentunya akan menguntung bagi perusahaan yang kemudian akan membuat kinerja perusahaan meningkat.

    Pengangguran yang tinggi yang diakibatkan faktor keamanan dan goncangan politik juga berpengaruh secara langsung terhadap naik atau turunnya harga saham.

  2. Kebijakan Pemerintah
    Kebijakan Pemerintah dapat mempengaruhi pergerakan seperti kebijakan perseroan, kebijakan utang, kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA), dan lain sebagainya. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat menimbulkan volatilitas harga saham walaupun masih belum terealisasi.

  3. Kekuatan Pasar dan Perusahaan Sejenis
    Saham perusahaan cenderung mengikuti pasar dan dengan rekan-rekan sektor atau industri mereka. Beberapa perusahaan investasi terkemuka berpendapat bahwa kombinasi pergerakan pasar dan sektor secara keseluruhan menentukan mayoritas pergerakan saham.

  4. Demografi
    Investor middle-age yang memiliki penghasilan tinggi cenderung berinvestasi di pasar modal. Sedangkan, investor yang lebih tua cenderung menarik diri dari pasar modal untuk memenuhi kebutuhan hari tua mereka.

Sentimen Pasar

Sentimen pasar mengacu pada psikologi pelaku pasar, baik secara individu maupun kolektif. Sentimen pasar seringkali subjektif dan bias. Pasar bereaksi terhadap berita-berita baik itu berita baik maupun berita buruk. Meskipun sulit untuk mengukur dampak berita atau perkembangan tak terduga di dalam perusahaan, industri, atau ekonomi global, tidak dapat dipungkiri bahwa semua itu mempengaruhi sentimen investor.

Saat investor mengetahui berita buruk, berita ini dapat memicu kepanikan sehingga investor menjual saham mereka. Kepanikan investor membuat harga saham bergerak turun terlepas dari bagaimana fundamentalnya. Walaupun, untuk investor yang tidak “termakan” berita mungkin akan tetap menahan diri dan tidak terbawa arus karena berpegang pada fundamental perusahaan.

Bagaimana Saham di SCF Syariah?

Pergerakan harga saham di SCF bisa jadi tidak secepat yang terjadi di Bursa Efek Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perdagangan pasar sekunder pada platform SCF sangat dibatasi (hanya 2 kali dalam 1 tahun) sehingga harga saham tidak dapat naik atau turun dengan cepat atau volatile. Namun, bukan berarti harga saham yang diperdagangkan pada platform SCF tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas. Hanya saja mungkin yang lebih dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan dan juga kondisi makroekonomi.

Jangan ketinggalan update event & artikel tentang investasi di SCF serta informasi terbaru Penawaran Sukuk dan Saham Syariah. Yuk… Join Grup Telegram “Investasi Syariah”, caranya klik link https://t.me/shafiqid, kemudian join. Apakah SHAFIQers sudah terdaftar sebagai Investor ? klik saja DAFTAR

Sumber:

  1. https://sikapiuangmu.ojk.go.id/FrontEnd/CMS/Article/10507
  2. https://www.investopedia.com/articles/basics/04/100804.asp#citation-2



Baca juga :
Apa saja resiko investasi di SCF ?
Padahal yang namanya investasi akan menemui dua kemungkinan, yaitu : Untung atau Rugi. Inilah yang disebut dengan risiko sehingga keuntungan bersifat proyeksi atau perkiraan bukan kepastian