Berita & Artikel
Habis Gajian Langsung Checkout? Pelajari Cara Mengontrol Impulsive Buying
SHAFIQ Administrator
Selasa, 25-11-25

Cara Mengontrol Impulsive buying | 2 Min read

Momen gajian jadi saat paling ditunggu banyak orang.
Momen dimana suara notifikasi m-banking terdengar indah.

Begitu saldo masuk, rasanya bak jadi “sultan” yang bisa beli apa aja, dan godaan untuk langsung checkout pun jadi sulit ditahan.

Akhirnya, saldo tiba-tiba menipis gara-gara liat diskon, flash sale, dan notifikasi “Barang incaranmu sedang promo!”.

Kalo kamu pernah mengalami ini, kamu mungkin sedang terjebak dalam perilaku yang disebut Impulsive Buying. Memiliki kebiasaan impulsif memiliki dampak yang sangat buruk, lho, terutama bagi keuangan kita di masa depan.

Oleh karena itu, yuk, pahami lebih dalam apa itu impulsive buying, kenali dampaknya, dan cara mengatasinya supaya keuangan tetap aman dan terkelola dengan bijak.

Baca Juga:

Apa Itu Impulsive Buying?

Impulsive buying adalah perilaku membeli sesuatu secara spontan tanpa pertimbangan yang matang atau tanpa perencanaan. Biasanya, keputusan ini muncul karena dorongan faktor emosional atau psikologis dan bukan karena kebutuhan nyata.

Misalnya, kamu sedang scroll media sosial, lalu melihat influencer memakai sepatu keren. Tanpa berpikir panjang langsung klik checkout, padahal sepatu di rumah masih banyak dan jarang dipakai.

Seringkali perilaku Impulsive Buying muncul karena beberapa faktor, antara lain:

  1. Godaan promosi
    Diskon besar, gratis ongkir, atau cashback

  2. FOMO (Fear of Missing Out)
    Takut melewatkan kesempatan atau tren terbaru.

  3. Mudahnya transaksi online
    Fitur pay later, e-wallet, dan one-click purchase membuat keputusan membeli terasa ringan.

  4. Efek psikologis
    Setiap kali membeli sesuatu, otak melepaskan hormon dopamine yang menimbulkan rasa senang

Dampak Impulsive Buying terhadap Keuangan

Dalam prinsip Islam, perilaku impulsif atau berlebihan dalam membelanjakan harta disebut sebagai israf, dan islam jelas melarang perilaku ini.

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra: 26-27)

Selain dilarang oleh islam, perilaku Impulsive Buying juga memiliki dampak yang sangat buruk terhadap kondisi finansial kita, di antaranya adalah:

  1. Over Budget
    Pengeluaran yang tak terencana bikin saldo kamu cepat habis dan bikin anggaran bulanan kamu jadi kacau.

  2. Sulit menabung atau berinvestasi
    Dana yang seharusnya dialokasikan untuk masa depan malah habis untuk kepuasan sesaat.

  3. Terjebak utang konsumtif
    Ini adalah dampak yang paling serius, apalagi kalau kamu menggunakan pay later atau kartu kredit tanpa pertimbangan.

  4. Stres finansial
    Kamu bakal ngerasa nyesel banget setelah belanja berlebihan dan akhirnya bikin kamu jadi stress dan merasa bersalah.

6 Cara Mengatasi Impulsive Buying

Jangan putus asa dulu ya! Ada beberapa tips agar tidak lagi terjebak kebiasaan impusive buying, kenali tips berikut ini:

  1. Buat Anggaran Belanja
    Tentukan dulu batas belanja untuk kebutuhan, tabungan, dan keinginan. Kamu juga bisa pisahkan rekening untuk kebutuhan dan keinginan. Dengan cara ini, finansialmu bisa teralokasikan dengan tepat.

  2. Tunda Keputusan Belanja
    Berikan waktu untuk berpikir sebelum membeli. Misalnya, saat ingin membeli sesuatu, tunda selama 24 jam. Jika setelah itu kamu masih benar-benar menginginkannya dan masih sesuai anggaran, barulah beli.

  3. Batasi paparan iklan
    Kalau perlu, menonaktifkan semua notifikasi dari aplikasi belanja atau media sosial yang suka menggoda kita dengan promo.

  4. Masukan ke wishlist terlebih dahulu
    Alih-alih langsung checkout, simpan barang yang kamu inginkan di daftar wishlist. Ini memberi waktu untuk berpikir ulang sebelum membeli.

  5. Hindari Transaksi Menggunakan Pay Later
    Walau baru gajian, fitur paylater tetap aja keliatan menggoda buat dipakai. Tapi buat belanja impulsif, sebaiknya tahan dulu—pakai cuma kalau kondisi lagi darurat banget.

  6. Bijak dalam Memberi Self-Reward
    Setelah bekerja keras selama sebulan, rasanya kita ingin sekali memberi hadiah kepada diri sendiri atau self-reward. Namun, self-reward yang kebablasan bisa bikin dompet bisa ikut kewalahan.

    Impulsive buying bukan kebiasaan yang tak bisa dikendalikan. Dengan kesadaran dan disiplin, kamu bisa mengelolanya agar keuangan tetap sehat.

Baca Juga:

Nikmati Gaji dengan Bijak
Intinya, belanja itu sah-sah aja—namanya juga mau menghargai diri sendiri setelah kerja keras sebulan penuh. Tapi jangan sampai euforia gajian bikin kamu kalap dan malah pusing di tengah bulan.

Atur keuangan sebaik-baiknya, belanja seperlunya, dan sisihkan uangnya untuk menabung atau berinvestasi. Kamu bisa banget berinvestasi di SHAFIQ, platform Investasi di Bisnis UKM Riil yang legal dan berprinsip syariah!
_______________
SHAFIQ Sharia securities crowdfunding (SCF Syariah) Pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

Segera Daftar Sekarang dan wujudkan bisnis yang lebih besar!

⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Share
slider-mobile