Berita & Artikel
Nasihat Menkue Purbaya Buat Gen Z, Jangan Belanja Buat Flexing!
SHAFIQ Administrator
Selasa,
16-12-25
Jangan belanja buat Flexing! | 3 Min read
“No flexing, No happy….”
Apa iya harus begitu? Haus validasi banget deh!
Di tengah tren flexing di media sosial, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengingatkan satu hal penting buat Gen Z: kaya itu bukan soal keliatan mampu, tapi benar-benar mampu secara finansial.
Beliau menyoroti kebiasaan belanja demi gengsi yang justru bikin gaji cepat habis tanpa sisa aset.
Baca Juga:
Berikut rangkuman nasihat pentingnya mengutip dari berbagai media—dikemas ringan, tapi relevan buat kondisi Gen Z hari ini.
- Hemat Itu Perlu, Tapi Jangan Sampai Menyiksa Diri
Frugal living boleh, pelit jangan. Itu garis besarnya. Menurut Purbaya, hidup hemat bukan berarti mengorbankan kebutuhan dasar. Kesehatan tetap prioritas karena itu investasi jangka panjang.
Masak sendiri di rumah, misalnya, sering kali jauh lebih hemat dan sehat dibanding ngopi cantik tiap hari hanya demi konten atau gengsi. Hemat yang cerdas itu bukan soal menahan diri berlebihan, tapi mengatur prioritas.
- Paylater Bukan Solusi, Tapi Jebakan
Paylater kelihatan ramah di awal, tapi sering jadi sumber masalah di belakang. Produk ini dirancang untuk membuat orang belanja barang yang sebenarnya tidak perlu, dengan iming-iming “bayar nanti”.
Begitu tagihan datang, baru terasa beratnya. Pesan Menkeu jelas: hindari utang konsumtif, kecuali benar-benar darurat dan terukur. Kalau cuma buat gaya, risikonya lebih besar daripada manfaatnya.
- Waspadai Pola “Gaji Numpang Lewat”
Banyak anak muda merasa sudah kerja keras, tapi gaji selalu habis di akhir bulan. Ini tanda klasik “gaji numpang lewat”. Purbaya menyarankan pendekatan yang disiplin.
Jika masih tinggal dengan orang tua, idealnya 50% gaji ditabung. Jika sudah mandiri, minimal 30% dialokasikan untuk tabungan atau aset. Berat? Jelas. Tapi justru di fase awal inilah fondasi kekayaan dibangun.
- Level Investasi Itu Bertahap, Jangan Loncat Tangga
Investasi bukan lomba siapa paling cepat, tapi siapa paling siap. Purbaya mengingatkan pentingnya memahami “tangga investasi”.
Awalnya fokus ke instrumen aman seperti tabungan atau deposito. Setelah itu baru masuk ke emas untuk lindung nilai, lalu ke obligasi atau sukuk untuk pendapatan pasif. Prinsipnya satu: jangan masuk ke instrumen yang belum dipahami ilmunya.
- Kalau Untungnya Dijamin, Hampir Pasti Bodong
Ini rumus paling sederhana tapi sering diabaikan. Jika ada tawaran investasi dengan imbal hasil besar dan katanya tanpa risiko, hampir bisa dipastikan itu jebakan.
“Too good to be true” biasanya memang tidak benar. Di sinilah pentingnya literasi keuangan dan memilih platform investasi yang legal, transparan, dan diawasi regulator.
Kaya Itu Proses, Bukan Pencitraan Haus Validasi
Inti pesan Menkeu Purbaya sangat relevan buat Gen Z: berhenti belanja demi validasi sosial. Bangun aset pelan-pelan, kelola gaji dengan sadar, dan pilih investasi yang masuk akal.
Di tengah maraknya investasi instan dan gaya hidup serba pamer, keputusan finansial yang tenang justru jadi keunggulan. Karena pada akhirnya, yang bikin aman bukan seberapa mewah gaya hidupmu, tapi seberapa kuat fondasi keuanganmu.
Baca Juga:
Saatnya Gen Z Investasi dengan Cara yang Lebih Berkah
Kalau tujuanmu bukan sekadar kelihatan “punya”, tapi benar-benar punya aset yang sehat dan berkelanjutan, maka investasi perlu dilakukan dengan cara yang tepat.
Buat Gen Z, pegang satu prinsip sederhana: 2L — Logis dan Legal. Logis secara perhitungan, dan legal secara aturan serta sesuai prinsip syariah.
Melalui investasi syariah di sektor riil, kamu bukan cuma mengejar potensi imbal hasil, tapi juga ikut:
- Mendukung bisnis nyata dan UMKM produktif,
- Menghindari riba dan skema abu-abu,
- Serta menumbuhkan harta dengan cara yang lebih tenang dan berkah.
_______________
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.