Berita & Artikel
Butuh Uang, Tapi Tak Mau Terjerat Pinjol? Ini Cara Mengatasinya
SHAFIQ Administrator
Jumat, 25-09-26

Tips Tidak Terjerat Pinjol | 3 Min read

Apa kabar SHAFIQers?

Butuh uang ketika kondisi mendesak terkadang membuat seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru. Ketika kebutuhan datang namun dana tidak tersedia, pinjaman online sering menjadi jalan pintas.

Masalahnya, keputusan tersebut dapat berubah menjadi persoalan baru ketika pinjaman digunakan berulang kali untuk menutup kebutuhan konsumtif atau membayar kewajiban sebelumnya.

Dalam beberapa kasus, masyarakat bahkan dapat terjebak pada banyak pinjaman sekaligus. CNBC Indonesia pernah mengutip pernyataan Tirta Segara, yang saat itu menjabat Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Perlindungan Konsumen, mengenai temuan konsumen yang meminjam dari lebih dari 40 fintech dalam satu minggu.

Bagi seorang Muslim, persoalan utang perlu dilihat dari sisi muamalah dan prinsip syariah. Karena itu, ketika membutuhkan dana, pertanyaannya bukan hanya “Dari mana saya bisa mendapatkan uang?”, tetapi juga “Bagaimana cara mendapatkan dana tanpa melanggar prinsip syariah dan tanpa membebani kondisi keuangan?”

Baca Juga:

7 Cara Menghindari Jeratan Pinjol

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.

  1. Rutin Buat Anggaran Sebelum Mengambil Keputusan
    Langkah pertama adalah mengetahui kondisi keuangan secara nyata.

    Catat pendapatan dan seluruh pengeluaran setiap bulan. Pisahkan kebutuhan pokok, kewajiban, pengeluaran yang dapat ditunda, serta kebutuhan yang sebenarnya tidak mendesak.

    Jangan menjadikan pinjaman sebagai solusi pertama hanya karena terlihat paling cepat.

  2. Siapkan Dana Darurat
    Kondisi tidak terduga seperti kehilangan pendapatan, kebutuhan kesehatan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan keluarga dapat muncul kapan saja.

    Dana darurat berfungsi sebagai bantalan keuangan ketika situasi tersebut terjadi. Dengan memiliki cadangan dana, kebutuhan mendesak tidak selalu harus diselesaikan dengan berutang.

  3. Bangun Aset dan Investasi Sesuai Kemampuan
    Setelah kebutuhan pokok dan dana darurat mulai tertata, sebagian penghasilan dapat dialokasikan untuk tujuan keuangan jangka panjang.

    Bagi SHAFIQers, pilihan investasi juga perlu memperhatikan prinsip syariah, profil risiko, tujuan, serta kemampuan finansial. Dan yang tidak kalah penting, jangan berinvestasi hanya karena ingin mendapatkan keuntungan cepat untuk menutup utang.

  4. Hindari Utang untuk Memenuhi Life Style
    Gawai baru, produk branded, liburan fomo, atau tren tertentu mungkin terlihat menarik. Namun, jika harus dibayar dengan utang yang membebani keuangan, pertimbangannya menjadi berbeda.

    Belajar membedakan kebutuhan dan keinginan merupakan bagian penting dari pengelolaan keuangan.

  5. Jika Membutuhkan Pembiayaan, Pastikan Sesuai Syariah
    Tidak semua kebutuhan dana dapat dihindari. Dalam kondisi tertentu, seseorang memang dapat membutuhkan pembiayaan. Namun, bagi seorang Muslim, akad, mekanisme transaksi, biaya, dan kewajiban pembayaran perlu dipahami terlebih dahulu.

    Prinsipnya sederhana jangan sampai kebutuhan dana hari ini justru menjadi persoalan yang lebih berat di kemudian hari.

  6. Tingkatkan Pengetahuan Finansial dan Muamalah
    Banyak keputusan finansial yang buruk terjadi bukan semata-mata karena seseorang tidak memiliki uang, tetapi karena kurang memahami cara mengelolanya.

    Karena itu, teruslah belajar tentang pengelolaan keuangan, utang, investasi, dan fiqih muamalah.

    SHAFIQ juga menghadirkan berbagai edukasi dan kegiatan yang membahas keuangan, bisnis, serta investasi dari perspektif syariah. Bagi SHAFIQers, kegiatan literasi seperti ini dapat menjadi sarana untuk memahami berbagai transaksi keuangan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

  7. Sederhanakan Gaya Hidup
    Jika setiap kenaikan penghasilan langsung diikuti oleh bertambahnya cicilan dan pengeluaran konsumtif, ruang keuangan justru dapat semakin sempit.

    Menjalani hidup sesuai kemampuan bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja. Justru dengan pengeluaran yang terkendali, seseorang memiliki ruang lebih besar untuk menabung, menyiapkan dana darurat, membantu keluarga, dan membangun aset.

Baca Juga:

Butuh Uang Bukan Berarti Harus Langsung Berutang

Ketika membutuhkan uang, berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan. Coba lihat kembali!

  1. Apakah kebutuhan tersebut benar-benar mendesak?
  2. Apakah ada pengeluaran yang bisa ditunda?
  3. Apakah tersedia dana darurat?
  4. Apakah ada aset yang dapat dimanfaatkan?
  5. Jika memang membutuhkan pembiayaan, apakah akad dan mekanismenya sesuai dengan prinsip syariah?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Bagi seorang Muslim, mengelola keuangan bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan uang dan menggunakannya, tetapi juga bagaimana memperoleh dan mengelolanya dengan cara yang halal serta bertanggung jawab.

Mulailah dari anggaran yang sehat, dana darurat, gaya hidup yang sesuai kemampuan, dan terus tingkatkan literasi keuangan serta muamalah.

Semoga Allah ﷻ memberikan kita rezeki yang halal, mencukupkan kebutuhan kita, melindungi dari utang yang memberatkan, dan memberikan keberkahan dalam setiap harta yang kita kelola. Aamiin.

Baca Juga:

_______________

SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:

  1. Berinvestasi pada bisnis sektor riil
  2. Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
  3. Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
  4. Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.

⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!

⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Share
slider-mobile