Berita & Artikel
27,23 Juta Rekening Baru Dibuka, Apakah Literasi Keuangan Indonesia Meningkat?
SHAFIQ Administrator
Rabu, 04-11-26

Literasi dan inklusi keuangan 2026 | 3 Min read

Masyarakat Indonesia semakin mudah mengakses layanan keuangan formal. Selama rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 sepanjang Oktober, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembukaan 27,23 juta rekening dan akun produk jasa keuangan.

Namun, ada satu pertanyaan penting, Apakah semakin banyaknya rekening dan akun keuangan berarti masyarakat Indonesia juga semakin melek finansial?

Jawabannya belum tentu. Sebab, memiliki akses terhadap produk keuangan tidak otomatis membuat seseorang memahami cara menggunakannya dengan tepat.

Baca Juga:

27,23 Juta Rekening dan Akun Baru Selama BIK 2026

Berdasarkan catatan OJK, pembukaan rekening dan akun selama BIK 2026 tersebar di enam kategori produk dan layanan keuangan.

Berikut rinciannya:

Produk atau layananJumlah
Rekening perbankan7,21 juta
Akun fintech5,87 juta
Polis asuransi5,38 juta
Rekening pegadaian4,63 juta
Rekening pasar modal2,07 juta
Rekening perusahaan pembiayaan2,07 juta
Total27,23 juta


Perbankan menjadi kategori dengan pembukaan rekening terbanyak, disusul akun fintech dan polis asuransi.

OJK menyebut capaian tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal. Dengan akses yang semakin terbuka, masyarakat diharapkan memiliki lebih banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan finansialnya.

Inklusi Keuangan Tidak Sama dengan Literasi Keuangan

Untuk memahami capaian tersebut, kita perlu membedakan dua istilah yang sering dianggap sama, yaitu inklusi keuangan dan literasi keuangan.

Inklusi keuangan berkaitan dengan ketersediaan akses dan penggunaan produk atau layanan keuangan formal oleh masyarakat.

Sementara itu, literasi keuangan berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan seseorang dalam memahami serta mengambil keputusan keuangan secara tepat.

Sederhananya, inklusi berbicara tentang seberapa mudah seseorang mengakses layanan keuangan. Literasi berbicara tentang seberapa baik seseorang memahami layanan yang digunakannya.

Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak bisa disamakan.

Baca Juga:

Punya Rekening Belum Tentu Melek Finansial

Bertambahnya jumlah rekening dan akun keuangan memang menjadi perkembangan positif. Namun, akses tersebut perlu diikuti kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan.

Ada beberapa hal mendasar yang perlu dipahami sebelum menggunakan produk jasa keuangan:

  1. Memahami biaya dan risiko produk
    Setiap produk keuangan memiliki ketentuan yang berbeda. Masyarakat perlu memahami biaya administrasi, bunga atau imbal hasil, tenor, serta risiko yang mungkin timbul.

  2. Mampu mengelola utang
    Kemudahan memperoleh pinjaman tidak selalu berarti seseorang mampu membayarnya. Penggunaan fasilitas kredit dan pinjaman digital perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial.

  3. Membedakan investasi dan spekulasi
    Tidak semua aktivitas yang menjanjikan keuntungan dapat disebut investasi. Keputusan investasi perlu didasarkan pada pemahaman terhadap instrumen, potensi hasil, dan risiko, bukan sekadar mengikuti tren atau ajakan orang lain.

  4. Memiliki dana darurat
    Sebelum mengejar pertumbuhan aset, masyarakat perlu menyiapkan dana untuk menghadapi kebutuhan tak terduga. Dana darurat membantu menjaga kondisi keuangan ketika terjadi perubahan pendapatan atau pengeluaran mendadak.

  5. Memilih produk sesuai kebutuhan dan kemampuan
    Produk keuangan yang populer belum tentu cocok untuk semua orang. Keputusan sebaiknya mempertimbangkan tujuan, kondisi keuangan, profil risiko, dan prinsip yang diyakini.

Saatnya Tidak Hanya Punya Akses, tetapi Juga Pemahaman

Pembukaan 27,23 juta rekening dan akun baru selama BIK 2026 merupakan capaian penting dalam memperluas akses layanan keuangan formal di Indonesia.

Namun, ukuran kemajuan keuangan masyarakat tidak cukup dilihat dari jumlah rekening yang dibuka. Kemampuan memahami produk, mengelola risiko, dan mengambil keputusan finansial secara bijak juga perlu menjadi perhatian.

Hal ini berlaku pula dalam memilih investasi. Jangan hanya tertarik pada potensi imbal hasil, tetapi pahami instrumen, mekanisme, legalitas, dan risiko yang menyertainya.

Bagi masyarakat yang ingin mengenal investasi berbasis prinsip syariah, SHAFIQ hadir sebagai layanan urun dana syariah yang menghubungkan pemodal dengan pelaku usaha melalui instrumen sukuk dan saham syariah.

Baca Juga:

_______________

SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI. Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:

  1. Berinvestasi pada bisnis sektor riil
  2. Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
  3. Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
  4. Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.

⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!

⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.

Sumber:

Share
slider-mobile