Berita & Artikel
4 Alasan Masyarakat Enggan Berinvestasi
SHAFIQ Administrator
Senin,
20-04-26
Uang Pesangon dan Investasi | 3 Min read
Gelombang PHK sempat menjadi kekhawatiran besar bagi banyak pekerja, terutama saat kondisi ekonomi global melemah dan ancaman resesi meningkat.
Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi, mulai dari memangkas biaya operasional hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia, Saeful Tavip, Mengungkapkan bahwa gelombang PHK paling banyak terjadi pada sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menjelaskan sedikitnya 9.000 pekerja di 10 perusahaan berpotensi terkena PHK dalam waktu dekat. (Kontan)
Situasi ini membuat banyak orang mulai bertanya: setelah terkena PHK, apa yang harus dilakukan dengan uang pesangon?
Apakah cukup hanya untuk bertahan hidup beberapa bulan, atau justru bisa menjadi awal untuk membangun stabilitas finansial yang baru?
Baca Juga:
Dana Darurat Jadi Prioritas Utama
Perencana keuangan sederhana pasca PHK, langkah pertama setelah menerima pesangon bukan langsung berinvestasi, tetapi memastikan kebutuhan hidup tetap aman.
Pesangon sebaiknya lebih dulu dialokasikan untuk:
- Dana darurat
- Biaya hidup beberapa bulan ke depan
- Kebutuhan keluarga
- Cicilan atau kewajiban yang mendesak
Tujuannya sederhana: memberi ruang bernapas sambil mencari pekerjaan baru, membangun usaha, atau menentukan langkah berikutnya.
Tanpa dana darurat yang cukup, keputusan finansial sering kali menjadi terburu-buru dan berisiko.
Bolehkah Pesangon Dipakai untuk Investasi?
Jawabannya: boleh, tetapi harus hati-hati.
SHAFIQers dapat menggunakan sebagian dari uang pesangon untuk investasi. Namun pahami hal penting di bawah ini:
- Menanam modal sebagai investor memiliki risiko maka muncul istilah high risk, high return. Artinya, semakin tinggi risikonya, akan semakin besar potensi keuntungan yang dapat diraih.
- Investasi sebaiknya dilakukan pada instrumen dengan risiko rendah dan gampang dicairkan. Menurutnya, sebelum berinvestasi pun juga perlu menyiapkan alokasi untuk biaya hidup sehari-hari.
Artinya, investasi bukan prioritas pertama, tetapi bisa menjadi strategi jangka menengah setelah kondisi dasar aman.
Tapi mengapa masih ada sebagian yang masyarakat enggan berinvestasi?
Kenapa Banyak Orang Masih Enggan Berinvestasi?
Meski jumlah investor di Indonesia terus meningkat, masih banyak masyarakat yang ragu untuk mulai berinvestasi.
Bahkan, data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan Jumlah investor pasar modal Indonesia per akhir Januari 2026 telah mencapai 21.037.426 single investor identification (SID). Ini menandakan perubahan besar dari budaya menabung menuju budaya investasi.
Apakah alasan-alasan mereka? Mari kita membahasnya secara ringkas pada artikel ini.
- Takut Investasi Malah Bangkrut
Ini alasan paling umum. Banyak orang melihat investasi sebagai sesuatu yang berbahaya karena ada risiko rugi, bahkan bangkrut. Ditambah maraknya kasus investasi bodong, rasa takut itu semakin besar.
Padahal, prinsip investasi memang selalu berkaitan dengan risiko. Istilah high risk, high return berarti semakin tinggi potensi keuntungan, semakin besar pula risikonya.
Solusinya: Mulai dari nominal kecil, Gunakan uang dingin, Pahami instrumen sebelum masuk dan Pastikan kebutuhan dasar sudah aman. Dan yang paling penting: cek legalitas platform.
- Mengira Investasi Hanya untuk Orang Kaya
Masih banyak yang berpikir investasi butuh modal besar.Padahal sekarang, banyak instrumen yang bisa dimulai dari nominal terjangkau, bahkan mulai dari ratusan ribu hingga satu juta rupiah.
Contohnya: Reksa dana, Emas, Sukuk Securities Crowdfunding (SCF). Artinya, investasi bukan soal kaya dulu, tapi soal membangun kebiasaan finansial lebih awal.
- Investasi Terasa Ribet
Banyak istilah baru, analisis pasar, hingga kekhawatiran salah langkah membuat orang mundur sebelum mencoba. Padahal sekarang, banyak platform investasi yang jauh lebih mudah dipahami dan ramah pemula.
Edukasi juga semakin terbuka melalui webinar, artikel, hingga pendampingan langsung. Yang penting bukan langsung ahli, tapi mau belajar pelan-pelan.
- Khawatir Mengandung Unsur Riba
Bagi sebagian masyarakat, terutama yang ingin menjaga prinsip syariah, investasi sering dianggap rawan unsur ribawi.
Kini, sudah banyak pilihan investasi syariah yang menerapkan prinsip transparansi dan bebas dari praktik gharar, riba, serta dzalim.
Instrumen seperti sukuk syariah dan saham syariah hadir sebagai alternatif yang lebih tenang secara finansial maupun spiritual.
Uang Pesangon PHK, Investasi dan Literasi Finansial
PHK memang bukan situasi yang mudah, tetapi juga bisa menjadi momentum untuk menata ulang keuangan dengan lebih bijak. Pesangon bukan hanya alat bertahan, tetapi juga bisa menjadi modal untuk membangun masa depan yang lebih stabil.
Mulai dari dana darurat, pengelolaan kebutuhan hidup, hingga investasi yang aman dan sesuai prinsip syariah—semua perlu direncanakan dengan tenang, bukan panik.
Platform seperti Shafiq.id hadir sebagai salah satu pilihan investasi sektor riil berbasis syariah yang mendukung UMKM sekaligus membuka peluang pertumbuhan finansial yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga:
_______________
SHAFIQ adalah Sharia Securities Crowdfunding (SCF) pertama di Indonesia yang berizin dan diawasi OJK serta DSN-MUI.
Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
- Berinvestasi pada bisnis sektor riil
- Mendapatkan pendanaan untuk scale-up usaha
- Belajar investasi syariah secara lebih terarah dan transparan
- Mulai langkah finansialmu dengan cara yang logis dan legal.
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Sumber: