Berita & Artikel
Banyak Anak, Banyak Rezeki? Kenapa Ada yang Enggan Menikah dan Memiliki Anak
SHAFIQ Administrator
Jumat,
26-07-24
Menikah dan Memiliki Anak | 2 min read
Pepatah "Banyak Anak, Banyak Rezeki" sering terdengar di masyarakat kita. Namun, di era digital ini, sebagian milenial dan Gen Z ternyata ada yang menunda bahkan enggan menikah dan memiliki anak. Fenomena ini semakin marak seiring dengan perubahan gaya hidup dan kekhawatiran akan kondisi finansial masa depan.
Fenomena Gamophobia dan Child-free menjadi tema diskusi yang marak beberapa tahun terakhir di berbagai platform media social. Bahkan menimbulkan pro-kontra Netizen dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Ada apa sebenarnya ini, bukankah 'Banyak anak Banyak rezeki'?
Mengutip Katadata berdasarkan laporan Statistik Indonesia, terdapat 1,58 juta pernikahan di dalam negeri pada 2023, turun 7,51% dibanding 2022 (year-on-year/yoy). Angka pernikahan tersebut menjadi rekor terendah selama satu dekade terakhir. Data angka pernikahan nasional pernah mencapai rekor tertinggi pada 2013, yakni 2,21 juta pernikahan. Kemudian angkanya bergerak fluktuatif, bahkan konsisten turun lima tahun berturut-turut sejak 2019.
Hal di atas akhirnya menghasilkan situasi dimana persentase pemuda yang berstatus kawin semakin menurun sedangkan pemuda yang belum kawin semakin meningkat. "Hal tersebut menunjukkan adanya pergeseran usia perkawinan pemuda," tulis BPS dalam laporan Statistik Pemuda Indonesia 2023.
Pandangan Milenial dan Gen Z terhadap Pernikahan dan Memiliki Anak
Mengutip pernyataan BPS bahwa adanya faktor-faktor seperti keinginan mengejar kesuksesan dalam pendidikan dan karier, mengembangkan diri, dan berkurangnya tekanan dari lingkungan sosial mempengaruhi keputusan generasi muda untuk menunda pernikahan.
Yuk kita bahas poin-poin di atas!
- Kondisi Finansial yang Tidak Stabil
Biaya hidup yang semakin tinggi, termasuk pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari, menjadi salah satu faktor utama. Milenial dan Gen Z khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga jika mereka menikah dan memiliki anak.
- Karier dan Pendidikan
Banyak milenial dan Gen Z yang lebih fokus mengejar karir dan pendidikan. Mereka merasa bahwa menikah dan memiliki anak bisa menghambat perkembangan karier dan pencapaian akademis mereka.
- Kebutuhan Pribadi dan Kebebasan
Generasi ini cenderung menghargai kebebasan pribadi. Mereka khawatir bahwa tanggung jawab keluarga akan mengurangi waktu dan kebebasan untuk mengejar minat pribadi dan hobi.
- Pengalaman dari Orang Tua
Melihat orang tua yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kadang membuat milenial dan Gen Z ragu. Mereka tidak ingin mengalami tekanan dan stres yang sama.
Apakah ada hal lain selain kondisi di atas, mungkin SHAFIQers punya alasan lainnya?
Mengatasi Kekhawatiran dengan Perencanaan yang Matang
- Perencanaan Keuangan yang Matang
Memulai perencanaan keuangan sejak dini sangat penting. Buat anggaran yang mencakup semua kebutuhan, termasuk dana darurat, tabungan, dan investasi. Memiliki rencana keuangan yang jelas dapat mengurangi kekhawatiran tentang biaya hidup.
- Edukasi Keuangan
Mengikuti kursus atau seminar tentang manajemen keuangan bisa sangat membantu. Pelajari cara mengelola uang dengan bijak, berinvestasi, dan menabung untuk masa depan. Edukasi keuangan yang baik dapat memberikan rasa aman dan percaya diri dalam menghadapi biaya hidup.
- Keseimbangan Karier dan Keluarga
Temukan cara untuk menyeimbangkan antara karier dan keluarga. Banyak perusahaan sekarang menawarkan fleksibilitas kerja, seperti kerja jarak jauh atau jam kerja yang fleksibel, yang dapat membantu dalam menjaga keseimbangan antara karier dan tanggung jawab keluarga.
- Prioritas dan Komunikasi dengan Pasangan
Diskusikan dengan pasangan mengenai harapan dan kekhawatiran masing-masing. Menentukan prioritas bersama dan mencari solusi yang cocok untuk kedua belah pihak sangat penting. Komunikasi yang baik dapat membantu mengatasi berbagai kekhawatiran tentang pernikahan dan memiliki anak.
Fenomena kekhawatiran milenial dan Gen Z untuk menikah dan memiliki anak bukanlah hal yang baru di era digital ini. Faktor kondisi finansial, karier, dan kebebasan pribadi menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan mereka.
Namun, dengan perencanaan keuangan yang matang, edukasi keuangan, keseimbangan antara karier dan keluarga, dukungan keluarga, serta komunikasi yang baik dengan pasangan, kekhawatiran ini bisa diatasi.
Baca juga: Apa Saja Problem Finansial Para Milenial Hari Ini?
Mari renungkan Kembali Hikmah ini!
Menikah dan memiliki anak tidak harus menjadi beban, melainkan bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna dan kebahagiaan. Sebagai seorang Muslim, menikah, melahirkan dan memiliki keturunan adalah hal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam.
- Perintah Memiliki Anak
“Maka sekarang campurilah mereka (istri-istri) dan carilah/harapkanlah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (QS. Al Baqarah: 187)
Imam Ibnu Katsir –rahimahullah– ketika menafsirkan “apa yang telah ditetapkan Allah untukmu” berkata, “Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas, Syuraih al Qadhi, Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair dan yang lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud adalah anak. (Tafsir Al Qur`an Al Adzim: 1/512)
- Menikahi Wanita yang Pecinta dan Subur
“Nikahilah oleh kalian wanita yang pencinta dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya kalian kepada umat-umat yang lain.” (HR Abu Dawud: 2052, dishahihkan Al Albany dalam Jami As-Shahih: 5251)
Hadis di atas adalah perintah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya agar menikah dengan wanita yang subur, agar ia dapat melahirkan anak yang banyak. Beliau ingin jika umat Islam banyak anak, maka semakin banyak pengikutnya sehingga beliau dapat berbangga dengan banyaknya jumlah pengikut pada hari kiamat kepada nabi-nabi yang lain dan umatnya.
- Anak sholeh yang berdo’a
“Jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang berdoa untuknya.” (HR Muslim)
Anak adalah karunia. Kehadiran mereka adalah nikmat. Anak dan keturunan memang dapat melahirkan ragam kebaikan. Dalam kehidupan rumah tangga, anak-anak dan keturunan ibarat tali pengikat yang dapat semakin menguatkan hubungan pasangan suami istri. Dan dari sana lah kemudian akan tercipta keharmonisan dalam rumah tangga; sakinah, mawaddah dan rahmah. (Dari ceramah Syaikh Sa’ad As-Syitsry, Ahkam Al Maulud)
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita anak yang shaleh dan shalehah, bermanfaat saat kita masih hidup dengan bakti mereka yang ikhlas, serta saat kita telah wafat dengan doa-doa mereka.
Ada banyak cara agar finansial kamu tetap sehat dan halal, jangan lupa untuk tetap berinvestasi! Agar harta dapat berkembang serta berkah, syaratnya pilih platform investasi yang tidak ada pelanggaran syariah di dalamnya.
Alhamdulillah SHAFIQ, Penyelenggara Layanan Urun Dana Syariah Pertama yang telah mendapatkan Izin dari OJK dan diawasi DSN MUI. Menjadi Mini Bursa yang mempertemukan ribuan investor dengan ratusan pengusaha dalam platform investasi syariah digital.
Pastikan untuk daftar dan lengkapi datanya supaya bisa berinvestasi
_______________
Wajib diperhatikan!!
- Investasi pada efek (saham/sukuk) mengandung risiko tinggi. Pastikan memahami skema bisnisnya melalui prospektus yang disampaikan!
Sumber bacaan: