Bitcoin Naik Hari Ini | 3 Min read
"Lho, bukannya kemarin harga Bitcoin sempat turun? Kok sekarang naik lagi?" Pertanyaan seperti ini mungkin sedang muncul di benak banyak investor.
Pergerakan aset kripto terkenal sangat dinamis. Dalam hitungan hari, harganya bisa berubah cukup signifikan karena dipengaruhi berbagai sentimen global.
Namun, kenaikan harga Bitcoin tidak terjadi begitu saja. Ada sejumlah faktor yang menjadi pendorongnya, mulai dari perkembangan regulasi di Amerika Serikat hingga meningkatnya minat investor institusi.
Yuk, kita bahas apa saja penyebabnya, SHAFIQers!
Baca Juga:
Mengutip Investor.id, pada pekan terakhir Juni 2026 harga Bitcoin sempat melonjak cukup tajam.
Reli menuju level US$70.000 masih tertahan akibat arus keluar ETF dan ketidakpastian ekonomi global, sentimen pasar mulai menunjukkan perbaikan. Harga Bitcoin (BTC) melesat 1,13% ke level US$63.952 per koin atau sekitar Rp1,14 miliar (kurs Rp17.863 per dolar AS).
Sementara itu, berdasarkan laporan Metro TV News yang mengutip Investing.com, hingga 11 Juli 2026 Bitcoin mampu bertahan di atas US$64.000. Harga bahkan sempat menyentuh level US$64.489 sebelum ditutup di sekitar US$64.197, naik sekitar 0,6% dalam sehari.
Lalu, apa yang membuat Bitcoin kembali menguat?
Salah satu sentimen terbesar datang dari perkembangan kebijakan di Amerika Serikat.
Pemerintah AS memberlakukan larangan selama empat tahun terhadap penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau dolar digital oleh Federal Reserve.
Bagi pelaku industri kripto, kebijakan ini dinilai memberikan ruang yang lebih besar bagi perkembangan stablecoin dan ekosistem aset digital swasta. Pasar pun merespons kebijakan tersebut secara positif karena dianggap mengurangi potensi persaingan langsung dari mata uang digital bank sentral.
Baca Juga: Kenapa Harga Bitcoin Turun? Ini Analisis dan Prediksi yang Perlu Kamu Tahu
Kenaikan Bitcoin juga didukung oleh semakin besarnya minat investor institusi.
Salah satu contohnya adalah Circle, penerbit stablecoin USDC, yang memperoleh persetujuan dari Office of the Comptroller of the Currency (OCC) untuk mendirikan bank kepercayaan nasional di Amerika Serikat.
Banyak analis melihat bahwa siklus kenaikan Bitcoin berikutnya kemungkinan akan berlangsung lebih sehat dibandingkan lonjakan-lonjakan ekstrem pada masa lalu.
Artinya, pertumbuhan harga diharapkan lebih bertahap dengan dukungan adopsi teknologi dan regulasi yang semakin matang, bukan sekadar dipicu spekulasi jangka pendek.
Meski tren mulai membaik, Bitcoin belum sepenuhnya bebas dari tekanan. Beberapa faktor yang masih diperhatikan investor antara lain:
Karena itu, volatilitas Bitcoin diperkirakan masih akan cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Pergerakan Bitcoin menunjukkan bahwa harga aset tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran, tetapi juga oleh regulasi, kebijakan pemerintah, serta kepercayaan investor.
Bagi siapa pun yang ingin berinvestasi, penting untuk memahami cara kerja instrumen tersebut, mengenali profil risiko, dan tidak mengambil keputusan hanya karena ikut tren atau FOMO (Fear of Missing Out).
Investasi yang baik bukan sekadar mengejar kenaikan harga, tetapi juga memahami risiko yang menyertainya.
Alhamdulillah, SHAFIQ terus mengajak masyarakat untuk memahami pentingnya literasi investasi dan memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan serta prinsip syariah. Pastikan keputusan investasi didasarkan pada ilmu, bukan sekadar mengikuti euforia pasar.
Baca Juga:
=====
Melalui platform SHAFIQ, kamu bisa:
⚠️ Disclaimer | Semua bentuk investasi punya risiko. Pastikan kamu baca prospektus dan pahami model bisnisnya sebelum berinvestasi, ya!
⚠️ Artikel ini untuk bertujuan edukasi dan literasi. Bukan ajakan beli/ jual instrumen tertentu.
Sumber: